Label

Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2015

BATU YANG HILANG

- Anita Nurrohmah


          Kota yang tenang. Sangat tenang hingga kau tak akan menyangka ada kehidupan di dalam sana. Sebuah kota mungil pinggiran yang dikelilingi barisan pegunungan tinggi menjulang. Aman dan nyaman, tak pernah ada keributan. Semua hidup dengan tenang, setenang cemara yang bisa kau pandang dari kejauhan. Penduduknya rukun dan menyenangkan, jarang ada yang berselisih atau bersalah paham. Seharusnya kau senang hidup di kota seperti itu. Namun, tidak dengan seorang polisi yang duduk gelisah di meja kerjanya.
Ia sudah bertahun-tahun bekerja menjadi seorang polisi. Tak pernah satu kasus pun ia tangani. Hanya melamun dan melamun di ruangannya. Polisi itu merasa hanya makan gaji buta. Tak ada kebanggan yang bisa ia ceritakan pada anaknya. Tak ada kasus yang bisa ia diskusikan dengan istrinya. Ia merasa tak ada bedanya dengan pengangguran. Ia merasa kota ini tak butuh polisi, kota ini lebih membutuhkan badut untuk hiburan. Lalu apakah ia harus beralih profesi menjadi badut? Atau pemain drama saja? Ia rasa wajahnya cukup tampan.
Di tengah lamunannya, datanglah orang bawahannya membawa sebuah kasus yang selama ini ia rindukan. Maka berseri-serilah wajah kusutnya. Ia sambut opsir itu dengan senyum merekah.
“Kasus apa yang kamu bawa itu, Opsir?” tanya Si Polisi.
“Bukan kasus yang besar, Pak. Hanya kasus pencurian ringan.” Jawabnya.
“Ah apapun itu, hargailah pekerjaanmu, Opsir. Sudah lama kita tidak bergerak. Apa kamu tak malu pada anak istrimu?”
“Iya, Pak.” Opsir itu tersenyum sambil undur diri. Sepeninggalannya, Si Polisi mulai membaca kasus pertamanya dengan antusias. Ia agak mengerutkan kening.
“Kasus pencurian batu? Kenapa ada orang yang mau-maunya mencuri batu? Dan kenapa pula ada orang yang melaporkan kehilangan batu?” Si Polisi tak habis pikir. Untuk menghilangkan rasa penasarannya sekaligus mempertajam kejelasan kasus ini, maka Si Polisi memanggil si pelapor keesokan harinya.
Ternyata si korban adalah Pak Kumis, tetangganya sendiri. Maka ia tanyakan perihal laporan Pak Kumis mengenai batunya.
“Betulkah Pak Kumis kehilangan sebuah batu?”
“Betul, Pak.” Jawab Pak Kumis dengan tenang.
“Betulkah Pak Kumis yakin kalau batu itu hilang karena dicuri?”
“Betul, Pak.”
Polisi menghela nafas sejenak. Agak memberi jeda untuk pertanyaan selanjutnya.
“Betulkah itu hanya sebuah batu? Kenapa sampai Anda laporkan ke polisi? Toh cari lagi di sungai juga banyak.”
Bukannya menjawab, Pak Kumis malah berang. Ia melonjak sambil menggebrak meja.
“HANYA SEBUAH BATU? ANDA TIDAK TAHU ITU BUKAN HANYA SEBUAH BATU. BATU ITU SANGAT PENTING UNTUK KELUARGA SAYA. ANDA TIDAK MENGERTI PAK POLISI!” Jantung Si Polisi berdegub kencang. Baru kali ini ia dibentak. Penduduk kotanya bisa jug membentak. Pikirnya.
“Tenang, Pak Kumis. Maafkan kekeliruan saya. Sebaiknya anda ceritakan kronologisnya agar saya mengerti dan tidak terjadi kesalahpahaman.” Jawab Si Polisi menenangkan.
“Batu itu saya dapatkan dari kota sebelah. Anda tahu kan untuk sampai di kota sebelah, kita harus melewati gunung dan sungai dulu.” Pak Polisi manggut-manggut. “Di Kota sebelah, batu semacam itu sedang banyak digandrungi orang. Baik laki maupun perempuan banyak yang memakainya ke mana pun. Saya diberi oleh kenalan saya, siapa tahu laku mahal. Maka saya bawa pulang untuk dijual ke pasar esok paginya. Tapi diluar dugaan, batu itu malah hilang. Batu itu hendak saya jual untuk membeli ayam. Ayam-ayam itu hendak saya ternakkan. Dari hasil ternak ayam bisa buat beli beras. Buat makan anak-anak saya. Jika anak-anak saya tidak makan, anak saya bisa mati, Pak. Bapak mau tanggung jawab kalau anak-anak saya mati?” Pak Polisi agak terkejut dengan kembalinya emosi Pak Kumis. Ia mencoba tersenyum untuk menenangkan. Pak Kumis melanjutkan cerita panjangnya. “Pencuri ini tidak bisa dibiarkan, Pak. Harus segera ditangkap! Bukan hanya mencuri, Pak. Ia mencoba membunuh anak-anak saya. Karena ia mencuri batu itu, maka anak saya bisa mati kelaparan.” Pak Polisi tersentak dengan akhir cerita Pak Kumis. Maka kasus pencurian tersebut naik pangkat menjadi kasus Rencana Pembunuhan.
            Tak ingin membuang waktu, Pak Polisi langsung mencari jejak si pelaku keesokan harinya. Mula-mula ia mendatangi rumah Pak Kumis. Hari itu ia amat sibuknya, jika biasanya ia hanya duduk-duduk saja di ruang kerjanya, maka ini hari yang istimewa.
“Kapan terakhir kalinya bapak melihat batumu?” tanyanya pada Pak Kumis.
“Dua hari yang lalu, Pak. Dua hari yang lalu batu itu digosok anak sulung saya.” jawab Pak Kumis sejujurnya. Pak Polisipun menanyai anak Pak Kumis.
“Apa benar kamu menggosok batu ayahmu dua hari yang lalu, Nak?” tanyanya dengan ramah.
“I-iya, Pak. Siang itu s-saya menggosoknya agar mengkilap. Tapi sumpah, Pak! Bukan saya pencurinya.” Anak itu buru-buru menambahkan dengan ketakutan.
“Tidak, Nak. Tidak ada yang menuduhmu mencurinya, tapi di mana kau letakan setelah kau gosok?”
“Saya menjemurnya di atas jerami, Pak. Batu itu bersinar-sinar di bawah matahari, Pak. Tapi setelah itu saya bermain ke padang rumput dengan teman-teman.”
“Lalu di mana jerami itu sekarang?”
“Setiap sore jerami itu diambil oleh Pak Jenggot untuk makan ternak, Pak.”
“Jadi Pak Jenggot yang mencuri batuku?” Sela Pak Kumis dengan lantangnya.
“Sabar, Pak. Tenang dulu, belum tentu ia pelakunya. Sebaiknya kita tanyakan langsung pada Pak Jenggot.”
Maka berangkatlah Pak Polisi dan Pak Kumis ke rumah Pak Jenggot.

***

“Yang saya ambil itu jerami bukan batu! Apa Pak Polisi tidak mengerti bahasa saya? kenapa bapak menuduh saya sebagai pencuri?”
“Maaf, Pak. Saya tidak menuduh bapak. Saya hanya bertanya, sebaiknya bapak jawab saja di mana jerami itu sekarang.” Lagi-lagi Pak Polisi dikejutkan oleh bentakan penduduk kotanya.
“Yaa sudah dimakan kambing saya. Jerami itu kan memang buat makan kambing saya.”
“Lalu di mana kambing bapak sekarang?”
“Sudah saya jual ke Nyonya Gemuk yang tinggal di atas bukit.”
            Maka bergegaslah mereka ke rumah Nyonya Gemuk. Dan seperti yang sudah ditebak Pak Polisi, Nyonya Gemuk marah-marah.
“Jadi kambing yang saya beli itu memiliki barang curian? Dan anda kemari karena merasa barang curian itu kini ada pada saya? Anda merendahkan harga diri saya Pak Polisi.”
“Saya tidak menuduh anda mencuri. Baiknya anda katakan saja dimana kambing itu sekarang.” Jawab Pak Polisi tenang karena mulai terbiasa dengan perangai pendudukya yang baru saja ia ketahui belangnya.
“Sudah saya giling dagingnya di tempat Kakek Bertopi.” Jawab Nyonya Gemuk sama angkuhnya sejak semula.
            Maka penyelidikan berlanjut ke rumah Kakek Bertopi. Tidak seperti lainnya yang menjawab dengan marah atau ketakutan, Kakek Bertopi menjawabnya dengan biasa.
“Iya benar, Pak. Nyonya Gemuk menggilingkan daging kambingnya di tempat saya. dan seperti biasa, penggiling itu saya cuci di sungai setelah digunakan.”
            Maka sudah bisa ditebak, mereka kini menuju sungai. Sebenarnya Pak polisi sedikit bingung untuk memulai pencarian di sungai. Apakah ia akan menyusuri sepanjang sungai atau mennyelam ke dalammnya? Beruntung di situ ada seorang pemuda mabuk yang sedang memancing.
“Hei, Pemuda Mabuk! Apakah kamu melihat batu Pak Kumis di sekitar sini?”
“Benar, Pak. Saya menemukan batu menarik saat memancing. Bentuknya indah dan bersinar-sinar” jawab pemuda itu dengan riangnya. Berserilah wajah Pak Polisi dan Pak Kumis. Penyelidikan melelahkan mereka akan segera berakhir.
“Di mana batu itu sekarang hei, Pemuda Mabuk?”
“Sebentar, Pak Polisi.” Pemuda Mabuk mengais-ais kantung kumalnya. Mengeluarkan sebuah batu... Bukan, itu batu karang.
“Bukan itu batu saya, Pak Polisi. Batu saya kecil dan hijau warnanya. Batu kecil untuk dibuat cincin. Bukan batu berlubang-lubang untuk rumah ikan.” Pak Polisi bingung dan kecewa. Ternyata mereka salah dan penyelidikan ini masih harus di lanjutkan.
“Apa batu anda berbentuk bulat seperti bisul dan mengkilat licin sebesar kelereng Pak Kumis?” Tanya Pemuda Mabuk.
“Ahh benar, benar. Apa kamu sekiranya pernah melihatnya?”
“Pernah, Pak. Saya melihat batu itu diambil orang di atas jerami.” Mata Pak Polisi dan Pak Kumis membelalak. Sontak mereka melontarkan pertanyaan yang sama.
“SIAPA YANG MENCURINYA, PEMUDA MABUK?”
“I-ibu anda Pak Polisi”
“IBUKU?”

***

Pak Polisi telah sampai di rumah ibunya. Kini ia bersimpuh dan menangis di depan ibunya.
“Oh, Ibu. Kenapa kau lakukan ini, Ibu? Tidakkah Ibu tahu berat hukumannya untuk sebuah rencana pembunuhan?”
“Ibu tidak pernah menyangka, Anakku. Air yang tenang akan keruh setelah dilempari batu. Ibu tak tahu, Anaku. Ikan akan terlihat belang setelah di kelupas sisiknya. Tapi satu yang Ibu tahu. Seorang Ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya. Agar kau mendapat pekerjaan, Ibu rela selamanya membusuk di penjara asal kau bahagia bersama keluargamu. Maafkan Ibu, Anakku.” Sang Ibu membelai lembut kepala putranya. Buliran bening menggenang di sudut mata rentanya. Namun, ia tersenyum lega.

END




Yogyakarta, 27 April 2015

Senin, 23 Maret 2015

Jurus Pengemis Kecil

- Ovi Tyas

Angin bersemilir lembut, menggelitik hidung Giok yang gatal diterpa rambut. Hangat sinar mentari menerpa ujung kakinya yang telanjang. Rombongan para lalat dan nyamuk mulai datang tanpa diundang. Membuat bising telinga dan risih sekujur tubuhnya tercolek badan lalat. Dengan mata yang masih bersemangat mengatup Giok berusaha bangun. Ia menyandarkan tubuh yang masih belum sepenuhnya sadar itu ke sisi tong sampah. Jalanan sudah ramai dengan ibu-ibu yang hilir mudik asik berbelanja sayuran. Ia menduga bahwa saat ini jam menunjukkan pukul enam pagi.


Seorang ibu yang mengenakan jubah merah jambu menarik perhatiannya. Tas belanjanya telah dipenuhi kangkung dan segala tetek bengek bumbu dapur. Giok mulai mendekatinya.

“Bu, bisakah saya membantu ibu membawa barang belanjaan ibu?”

“Aah nggak usah deh, saya bisa sendiri dek.” Ibu itu kembali melanjutkan tawaran kepada si penjual.
“Tas Ibu sudah sarat muatan, apa Ibu tidak keberatan membawanya?”

“Saya sudah keberatan membawa badan saya, tak usah kau tambahi dengan merelakan recehan untukmu.”
Giok langsung menyimpulkan bahwa ibu ini amatlah kikir. “Ayolah bu saya bantu, kasihani saya belum makan dari kemarin bu.” Jurus merajuk mulai ia praktekan.

“Waah kasihan sekali kau nak. Tapi saya hanya punya kangkung dan bawang merah tuh di tas, tidak punya makanan. Jadi kamu percuma minta makan sama saya.” Ia menatap tas biru yang memang berisi kangkung di samping ibu itu.

Waah nggak peka nih si ibu, gerutunya dalam hati.

“Saya tidak akan minta makan dari ibu.”

“Nah gitu dong, ya udah sana pergi.”

“Memang saya tidak akan meminta makan dari ibu, tapi bisakah saya melihat hati nurani ibu?” jurus hati nurani mulai beraksi.

Ibu itu mulai terdiam, sepertinya ia mulai menyadari kekosongan hati nuraninya dan bertekuk atas jurus kedua Giok. Tangan besar wanita paruh baya itu mulai meraba isi dompetnya. Bung Karno-Hatta, Om Ngurah Rai, Ibu pemetik teh dan paman Pattimura tengah berleha di sana. Giok semakin kegirangan. Ibu itu mengelurkan tiga paman Pattimura kepadanya. Aah kutu kupret nih si ibu! Tiga ribu perak buat makan apa? Gerutunya setelah menerima uang itu.

“Maaf ya dek, Ibu cuma punya segitu.”

Iya, maksudnya yang receh emang segini. Batinnya.

“Buat beli cilok deh, cukup kenyang kok.”

Cukup kenyang gundulmu. Giok semakin naik pitam dengan ibu kikir ini. Tapi sebagai jurus terakhir ia harus tetap menyempatkan ucapan terima kasih walau hati sesepet apapun. Ibu itu kembali melanjutkan tawarannya kepada penjual sedangkan Giok segera beranjak menuju beskem, di samping tong sampah untuk bersandaran. Ia meraba kantongnya dan mengeluarkan segala pahlawannya. Dua pahlawan Om Ngurah Rai, seorang ibu pemetik teh, dua pahlawan Imam Bondjol, dan tiga Paman Pattimura berada di genggamannya.

“Hari ini mau menu sarapan apa ya? Soto enak kayaknya, perutku butuh kehangatan.” Sambil mengusap-usap perut kerempengnya. Kaki kecilnya membawanya ke sebuah soto khas daerah Jawa Timur. Warung itu telah dipenuhi para sopir angkot dan beberapa kawan-kawannya, sesama pengemis kecil di pasar yang kumuh dan menjijikkan.

“Hei Giok! Apa kabar kau?” sapa salah satu temannya.

“Seperti yang kau lihat. Perutku masihlah kerempeng dan membutuhkan asupan gizi. Kabarku baru bisa dibilang baik jika perutku sudah sesubur dia.” Telunjuknya mengarah ke badan seorang laki-laki yang mengenakan seragam di tengah jalan raya.

Temannya tergelak dibuatnya, “Alah tidak usah mimpi kau. Sampai kau matipun kabarmu belum bisa dibilang baik.”

Giok menghela nafas. Hembusan nafasnya mengiyakan jawaban temannya. Nasibnya akan tetap seperti ini. Meminta dan memelas. Tak ada yang akan berubah. Keajaiban, rahmat, karunia, atau apapunlah itu ia sudah muak. Kata-kata yang sudah sangat basi baginya. Ia tak percaya dengan itu semua.

“Urus saja perut kerempengmu agar cepat menggembung, jangan kau melamun saja. Keburu dingin sotomu.” Ujar temannya membuyarkan lamunannya.

“Aah kau cerewet sekali! Seperti ibu gendut tadi.”

Temannya hanya tertawa mendengar makian Giok dan melangkah mencari mangsa lagi. Tatapannya bersama langkah-langkah kecil yang mulai meninggalkannya. Mereka senasib, pengemis kecil yang kerempeng. Jauh dari kebahagiaan. Entah di mana orang tua jahanam yang membuang mereka ke tempat yang menjijikkan berlumur sampah seperti ini. Mereka hidup sendiri, mengurus perut sendiri, entah pula kenapa mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang? Mungkinkah ini suatu rahmat dan keajaiban? Giok tak mau memikirkannya.

Matanya menatap tajam ke arah seorang ibu yang membuatnya muak pagi ini. Tiga tas yang penuh belanjaannya tengah dibawanya sendiri.

“Dasar kikir! Keparat! Rasain sendiri berat tasmu dan berat badan penuh dosa. Aku baru merasa bahagia jika berat yang kau tanggung berkurang.”

Usai menghabiskan soto dan membayarnya dengan separuh harga, Giok segera beranjak. Tentu saja ia menggunakan jurus memelasnya agar pahlawannya tidak banyak keluar pagi ini. Kaki kecilnya mulai lincah dan matanya mulai jeli untuk mendapatkan mangsa. Ya, seorang ibu muda berkerudung yang tengah memilih semangka. Ia langsung berlari mendapatkannya.

“Assalamualaikum Bu.”

“Waalaikumsalam.” Jawaban ramah yang membuat hatinya bergairah.

“Bisakah saya membantu ibu membawa barang belanjaan ibu?”

“Oo bisa dek, sebentar ya saya masih memilih.”

“Iya, Bu. Saya tunggu.”

Ini baru santapan lezat, bukan seperti ibu gendut yang kikir dan cerewet tadi. Batinnya.

Tiba-tiba orang sekitarnya ramai berteriak. Giok sudah tak heran mendapat situasi seperti ini.

“Ada apa dek?” tanya ibu berjilbab itu.

“Ooh ada yang kecopetan bu.”

“Astaghfirullah, kasihan sekali. Semoga yang kecopetan diberikan ketabahan oleh Allah.”

“Amiin.” Sebenarnya Giok sudah tak tahan bersikap layaknya orang masjid seperti ini. Tumakninah dan berwajah alim di samping ibu ini. Tapi ia harus bertahan demi menambah koleksi pahlawannya.

Bang Marno memang tengah beraksi. Ia adalah copet senior yang bermukim di pasar itu. Sudah tak heran bagi Giok dengan situasi kecopetan, orang-orang pasarpun hanya memandang tanpa bisa bergerak membantu mengejar si copet. Mereka sudah hapal dengan keadaan seperti itu.

Usai memilih semangka Giok membawakan semangka-semangka itu ke pinggir jalan. Uang berlatarkan rumah limas berada di tangannya. Beruntung ia dapat bertemu ibu berjilbab itu, tak sia-sia ia berwajah layaknya orang masjid. Ini baru rahmat, pikirnya bahagia. Ia berjalan dan sibuk menghitung uang-uangnya. Tiba-tiba sebuah bawang merah melintas di sampingnya dan berhenti tepat di depannya. Ia heran melihat bawang merah itu. Kepalanya menengok ke belakang. Sekantong kresek bawang merah tengah menggelinding dan...kangkung itu berceceran. Tatapannya terpaku pada tas biru. Orang-orang mulai ramai berdatangan. Hatinya tiba-tiba berdesir, matanya mulai panas. Ia terpaku menatanya. 



Jumat, 31 Oktober 2014

TIGA BUKU DI MALAM SUSASTRA #1

Searah jarum jam: Kun Andyan Anindito (pengarang buku Sebelum Telepon Berdering), Hasta Indriyana (Pembedah), Aulia Husna Hapsamurti (Moderator).

Kreativa Online – Sejumlah cerpenis di Yogyakarta pada Selasa malam (28/10) memeriahkan Tejokusumo FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Acara Malam Susastra edisi #1 menyuguhkan tiga buku kumpulan cerpen yang dibedah.

Pertama, Sebelum Telepon Berdering karya Kun Andyan Anindito. Pembicara Hasta Indriyana dan dimoderatori oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Aulia Husna Hapsamurti. Kedua, Kastagila karya Muhammad Qadhafi salah satu wartawan di di Jogja Review. Pembicara mendatangkan seorang penyair muda, Muhammad Aswar alumni UIN Sunan Kaljiga dengan moderator Muhammad Farid Anshori. Buku ketiga milik Eko Triono yaitu Kakek dengan pembicara Asef Saiful Anwar mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Moderator cerpenis Irwan Apriansyah.

Malam Susastra edisi #1 juga mengumumkan Pemenang Anugerah Olimpiade Bahasa dan Sastra KMSI FBS yaitu Kompetisi Ulasan Sastra dan Menuli Cerpen. Hadir para pemenang saat itu Drajat Teguh Jatmiko (UNY), Danang Setya Budi (UNY), Muhammad Ali Tsabit (UAD), Naufil Istikhari Kr (UIN Sunan Kalijaga), Alfian Hargi Qurrahman (UGM), dan Muhammad Ali Fakih (UIN Sunan Kalijaga).

“Acara ini sebenarnya sebuah forum kecil tiap hari senin sore. Kemudian inisatif kami akan terus berlanjut ke depan dua bulan sekali atau tiga,” kata Ketua Susastra KMSI, Muhammad Farid Anshori seusai acara. (Agi)