Label

Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2014

LABA-LABA YANG MEMBANGUN JARINGNYA

sumber: sheknows.com

JUDUL  Journey 2 The Mysterious Island | SUTRADARA Brad Peyton | SKENARIO Mark Gunn, Brian Gunn | DURASI 1.34 menit | PEMAIN Josh Hutcherson, Vanessa Hudgens, Dwayne Johnson, Luis Guzman, Kristin davis


Film ini berkisah tentang suatu petualangan ke sebuah pulau yang dianggap mustahil namun pada kenyataannya pulau tersebut nyata.

Berawal dari pesan kode yang dikirim oleh sang kakek melalui sinyal satelit, petualangan ini pun dimulai. Sean (Josh Hutcherson) dan ayah angkatnya, Hunk (Dwayne Johnson) memecahkan pesan kode tersebut dan bergegas menuju pulau yang ditunjuk sang kakek. Perjalanan mereka ditemani oleh seorang guide tour yang mengaku sebagai kapten terbaik di Pulau Palau. Ia adalah Gabato Laguatan (Luis Guzman). Petualangan mereka semakin manis dengan kehadiran putri dari Gabato, Kailani (Vanessa Hudgens) yang sukses memikat hati Sean.

Ketika sampai di hutan pulau misterius tersebut, mereka bertemu sang kakek. Petualangan sesungguhnya pun dimulai. Alur petualangan di dalam film ini dikemas secara apik. Rasa tegang dan perasaan menggelitik tawa menemani saya ketika menonton film ini. Namun, ada beberapa tantangan pemain yang dibuat seolah mudah dilakukan, sehingga kesan greget dan tegang itu berkurang.

Akhir film ini adalah ketika Sean dan Hunk menemukan kapal Nautilus yang dapat menyelamatkan mereka dari amukan lautan yang menenggelamkan pulau tersebut. Sean dan Hunk awalnya dikisahkan bermusuhan karena Sean tidak ingin memiliki ayah angkat. Namun di dalam film tersebut Hunk telaten melakukan pendekatan terhadap Sean, hingga petualangan ini membuat hati Sean terbuka bahwa ia membutuhkan sosok pelindung dari Hunk.

Film ini menggambarkan kerjasama, keluarga, mengekang egois, dan pengetahuan. Pengetahuan mereka diuji dalam petualangan ini, membuat saya tersadar bahwa membaca buku merupakan suatu hal yang sangat penting. Pengetahuan baru yang dapat saya ambil dari film ini yaitu laba-laba yang membangun jaringnya menghadap selatan.



- OVI TYAS

Jumat, 28 November 2014

SAAT SEMUA AKAN BERAKHIR ?

Sumber gambar: huffingtonpost.com

| Rio Anggoro Pangestu



Are you oke? Kalimat yang dibuat oleh Hazel dan Augustus untuk memberi respon keadaan mereka berdua. Semenjak mereka menjalin hubungan sepasang kekasih yang saling menyayangi untuk kesehatan mereka masing-masing: kanker. Kata yang tidak bisa dihindarkan oleh takdir mereka berdua. Penyakit ini bersarang pada tubuh mereka masing-masing sejak usia mereka beranjak dewasa.

Hazel penderita kanker thyroid yang terus berkembang di paru-parunya. Ia terus berusaha untuk selalu baik agar kanker yang dideritanya tidak menyebar lebih buruk pada tubuhnya. Hazel tidak sendiri untuk mengalami penderitaan kanker, ada sebuah grup penderita kanker untuk saling berbagi cerita tentang kanker yang diderita masing-masing. Dan pada grup inilah Hazel dipertemukan dengan Augustus. Augustus penderita kanker Osteosarcoma yang menggerogoti tubuhnya. Kisah percintaan mereka berdua dimulai.

Awal cinta mereka dimulai pada pertukaran buku “An Imperial Affliction” dan “contra Insurgent”. Jalinan kasih yang berbeda dengan pasangan normal biasa ini pun sangat romantis untuk dilihat ataupun dicerna. Seperti melihat sepasang merpati yang sedang terluka parah dan hampir mati, akan tetapi sepasang merpati ini saling menjaga untuk membuat kebahagiaan sepasang merpati ini. Hazel dan Augustus mereka berdua penderita kanker ganas, dengan kesempatan hidup yang sangat sedikit.

Amsterdam. Kota tujuan mereka berdua untuk melihat penulis buku “An Imperial Affliction”. Hazel yang sangat ingin pergi ke kota tersebut karena ia sangat terinspirasi buku yang ditulis oleh Louis van Houten tersebut. Buku itu membuat Hazel bisa berpikir positif untuk hidup. Tidak berbeda dengan Augus yang memang ingin membahagiakan Hazel untuk bertemu penulis buku “An Imperial Affliction”  tersebut. Seminggu kemudian mereka berangkat ke Amsterdam untuk mengunjungi Louis van Houten.

Pertemuan dengan Louis van Houten dimulai. Keinginan Hazel bertemu dengan Louis van Houten adalah pertemuan yang menyenangkan dan memuaskan. Tidak untuk saat ini untuk Hazel saat bertemu langsung dengan Louis van Houten. Sikap Louis yang angkuh dan terbilang sombong untuk bertemu dengan tamunya tidak membuat nyaman untuk Hazel dan Augus. Mereka berdua tidak habis pikir dengan hal itu. Kecewa kata yang pantas untuk pertemuan mereka berdua dengan Louis van Houten. Akan tetapi kekecewaan mereka bisa terhapus dengan melihat sejarah yang lebih menyedihkan dan nyata dari kisah Anna Frank. Anna Frank seorang yang dibunuh pada zaman perang di Eropa.

Penyakit kanker mulai menyebar. Kanker Osteosarcoma mulai menyebar hampir ke  seluruh tubuh laki-laki Augus. Ia lumpuh total. Bagian bawah organ tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan selayaknya lagi. Hanya kursi roda yang menjadi bagian dirinya untuk berjalan. Akan tetapi kisah percintaan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya. Karena mereka seperti sepasang merpati pemberi kasih sayang pada pasangannya.

Detik-detik di mana semua akan berakhir. Wujud nyata Augustus Waters telah menghilang untuk selamanya bagi Hazel Grace Lancaster. Ia meninggal karena kanker Osteosarcoma sudah tidak bisa dicegah untuk menyebar di dalam tubuh Augustus. Upacara kematian dimulai dan Hazel yang memberikan kalimat pidato terakhir untuk Augustus. Ditengah upacara terakhir ini Louis Van Houten datang untuk mengahadiri sekaligus memberikan surat yang dibuat oleh Augus untuk Hazel.

“kau tidak bisa memilih jika kau memiliknya dalam dunia ini, tetapi..”
“dan kau juga punya seseorang yang menyakitimu dan aku menyukai pilihanku”
“aku berharap dia menyukai pilihannya”
“oke, Hazel Grace?”

Sabtu, 08 November 2014

KETIKA DUNIA MENJADI HITAM PUTIH



  • Judul                : The Giver
  • Genre               :  drama, fantasi, dan fiksi ilmiah
  • Produksi           : The Weinstein company
  • Sutradara          : Philip Noyce
  • Produser           : Jeff Bridges, Nicky Silver
  • Penulis naskah   : Michael Mitnick, Vadim Perelman
  • Pemain             : Jeff Bridges, Meryl Streep, Brenton Thwaites, Katie Holmes, Taylor Swift,Alexander Skarsgad, dan Odeya Rush   
                  
Sering kita merasa hidup ini penuh kebobrokan, dan memuakkan. Hanya diwarnai oleh orang-orang yang memperebutkan kekuasaan dan kekayaan. Sering sekali timbul pikiran untuk melenyapkan segala ketidaksesuaian yang ada. Namun, pernahkah kalian berpikir saat semua hal-hal buruk itu hilang dan yang ada hanya hal-hal baik, kesetaraan, dan keselaran. Dapatkah dunia ini disebut sempurna?


The Giver adalah sebuah film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul sama karya Lois Lowry, bercerita tentang Jonas yang mendapati dirinya sebagai penerima memori di sebuah negeri di mana kenangan dan emosi ditiadakan. Sejak penobatannya sebagai “Penerima Memori” inilah, dia mulai merasakan betapa dunianya begitu tidak berwarna, hanya diisi oleh aturan-aturan yang mengekang. Dia mulai memahami bahwa dunia memiliki sisi gelap yang terkadang menyakitkan tapi justru hal itu yang membuatnya seimbang.


Philip Noyce selaku sutradara mampu menghadirkan suramnya dunia Jonas sebelum menjadi “Penerima Memori” dengan menampilkan efek hitam putih diawal film, lalu berangsur-angsur berwarna setelah Jonas menerima berbagai memori. Terdengar ganjal saat tiba-tiba Jonas mampu mengatakan bahwa warna apel yang dia pegang adalah merah. Bagaimana tokoh Jonas mampu menyebutkan warna apa yang dia lihat padahal sebelumnya dia belum pernah mempelajari hal tersebut di kehidupannya?


Penceritaan hubungan cinta antara Jonas dan Fiona yang merupakan temannya sejak kecil yang terkesan terburu-buru juga menjadi kelemahan dari film ini. Banyak penonton yang sebelumnya telah membaca versi buku dari film ini kecewa terhadap kisah cinta Jonas yang ada di versi filmnya. Bagaimana tokoh Jonas bisa mengerti kalau itu cinta sedang dia sendiri masih belajar tentang berbagai macam emosi yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Saya sendiri yang belum membaca novelnyapun merasa jika kisah cinta Jonas terkesan hanya menjadi bumbu cerita, seperti layaknya film-film hollywood yang lain.


Terlepas dari hal-hal di atas film ini cukup menghibur dengan efek futuristik yang ditampilkan. Lewat penggambaran memori-memori yang ditangkap oleh Jonas yang ada disepanjang film, kita diajak untuk sejenak merenung tentang keberagaman yang ada di bumi dan bagaimana menyikapinya. Film ini telah beredar di bioskop sejak 15 Agustus 2014 (Amerika serikat). Bagi kalian penyuka film fantasi bersemi fiksi ilmiah seperti Divergent dan Hunger Games, mungkin film ini patut anda tonton karena tema besar yang diambil hampir mirip. Hadirnya penyanyi country terkenal Taylor Swift juga menjadi poin tersendiri bagi film ini.


“Kehilangan, dan kesakitan, musik, kegembiraan segalanya terasa mustahil. Itulah perasaan indah akan cinta.” The Giver


Selamat menonton!



(Yumna)