Label

Tampilkan postingan dengan label ORMAWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORMAWA. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Pelarangan Sikrab di Luar Kampus



Bulan Agustus ini, Fakultas Bahasa dan Seni UNY sedang disibukkan dengan serangkaian agenda dalam menyambut mahasiswa baru 2015. Adapun agenda tersebut adalah  Ospek  sebagai sarana pengenalan kampus beserta seperangkat yang bersinergi di dalamnya mulai dari Universitas, Fakultas serta Prodi atau jurusan. 
Setelah agenda  Ospek selesai dilaksanakan, pihak Hima (Himpunan Mahasiswa) atau Ormawa  akan melakukan pengenalan lebih  dekat terhadap mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat. Acara tersebut dinamakan keakraban. Dua tahun lalu,  acara tersebut masih bernama Makrab (Malam Keakraban), sedangkan tahun 2014 lalu, kegiatan tersebut berganti  nama menjadi Sikrab (Siang Keakraban) karena dilaksanakan pada siang hari.
Pada tahun ini, agenda tersebut kemungkinan akan kembali mengalami perubahan dalam konsep pelaksanaan . Karena Sikrab akan dilaksanakan di dalam kampus ungu FBS. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan baru dari Rapat Koordinasi Umum (RKU) yang menghasilkan keputusan bahwa, “Sikrab diadakan di dalam kampus”. Hal ini diamini oleh Dr. Kun Setyaning Astuti. Ketika ditemui beberapa waktu lalu, beliau menyatakan “Yang melatarbelakangi kebijakan ini adalah keputusan Dirjen Dikti yang baru. Kan kalau di dalam kampus cenderung mudah koordinasinya serta meminimalisir resiko.” Tambahnya.
Ditemui ditempat terpisah, Dekan FBS UNY menyatakan bahwa kegiatan keakraban bukan bagian dari serangkaian Ospek, dan bukan merupakan agenda wajib dari kampus untuk mahasiswa baru. “Ndak ada. laah sehingga itu dalam rangka Ospek, pasti di luar tanggung jawab, begitu kan? Nah, lalu yang kedua, ketika ada agenda di luar, maka kalau ada sesuatu dan lain hal, gitu ya, tentu hal hal yang tidak diinginkan ya, itu siapa yang harus bertanggung jawab?
Pihak kampus tidak melarang, jika Ormawa ingin mengadakan kegiatan diluar kampus yang bersifat membina mahasiswa baru. “Seandainya kita mengadakan acara-acara yang berbau membina mahasiswa baru untuk memasuki ke dunia perguruan tinggi ini, sekali lagi, sehingga nanti mereka bisa benar benar menclok  dengan tepat , mapan gitu lho, settled itu, saya kira, bagus to?” Tambahnya.
Menanggapi kebijakan baru mengenai pelarangan Makrab, dan sikrab yang hanya diperbolehkan di dalam kampus, Ormawa FBS menyatakan keberatan dengan kebijakan tersebut. Karena ruang lingkup tempat di FBS dirasa kurang mendukung  jika dijadikan tempat Sikrab, dikhawatirkan ada ormawa yang berebut tempat strategis. Tempat strategis tersebut seperti Pendopo, stage Tari, dan Lab Karawitan.  Hal tersebut diungkapkan oleh Miko selaku ketua Hima Jawa, “Perihal peminjaman fasilitas pasti akan ribet dan berantakan. Lalu dikrab di dalam kampus masih kurang memungkinkan untuk mencapai keakraban itu sendiri, sehingga esensinya belum tersampaikan ke Maba”.
Menindaklanjuti masalah pelarangan Makrab, dan Sikrab di luar kampus, Fom kemudian mengadakan audiensi dengan seluruh ormawa FBS, dalam Fom tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan diantaranya: mengusahakan diadakan makrab dan dilaksanakan diluar kampus, Ormawa FBS akan bersama-sama menemui pihak Dekanat untuk meminta makrab diluar kampus tetap diperbolekan. Apabila pihak Dekanat tetap bersikukuh untuk tidak memberi izin kepada ormawa dengan alasan masalah keamanan, Fom menyepakati siap melakukan perjanjian dengan pihak Dekanat yang akan ditandatangani oleh seluruh Ketua Ormawa dan Ketua pelaksana kegiatan akan menjaga keamanan, dan siap diberi sanksi apabila gagal menjaga keamanan pada saat kegiatan diluar kampus berlangsung.
Mengenai hal tersebut pihak dekanat mengharapan adanya koordinasi lebih lanjut antara FOM dan dekan III FBS,kalau rebutan bisa dibagi waktu, yang peting dirapatkan dan saling koordinasi” tambah dekan FBS.
Kegigihan memperjuangkan pelaksanaan Makrab atau Sikrab diluar kampus oleh Ormawa FBS didasari oleh pernyataan Bapak Sumaryanto selaku WR III bahwa “Pihak Rektorat tidak melarang diadakannya Makrab atau Sikrab, namun keputusan tetap ada ditangan Fakultas masing-masing” terang beliau ketika melakukan pertemuan dengan BEM Rema UNY dan BEM seluruh Fakultas di Universitas Negeri Yogyakarta. (T)

Sabtu, 20 Desember 2014

SURAT IMAJINER BUAT KETUA BEM FBS



Ini adalah penghujung tahun. Tahun di mana saya menjadi warga sah FBS, tahun di mana saya harus siap-siap mengemas lembar-lembar tugas yang berisi pilihan ganda dari para dosen, mengemas jas almamater kebanggaan.



Ketua BEM terpilih,

Saya harus menulis surat ini dengan perasaan yang teraduk-aduk, sedih, campur haru yang meruak. Surat ini anggaplah sebuah silaturrahmi bahasa karena pada hari Kamis 11 Desember lalu saya tidak hadir dalam debat calon ketua BEM FBS. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, izinkanlah saya mengajak Anda keliling-keliling di sekitar FBS, dengan tanpa fisik Anda bersama saya, sebagai sebuah upaya pendekatan personal antara saya dan Anda.



Saya akan memulainya dari sini, di taman gedung Cine Club, atau depan C 15, karena di gedung inilah saya kerap melintas pulang dari kuliah. Pembicaraan serius akan saya mulai dari sini, dari mobil-mobil yang diparkir di depan gedung ini. Saya tidak tahu pada tanggal, bulan, dan tahun berapa kebijakan baru FBS turun dengan mengizinkan halaman yang sekaligus area lalu lintas mahasiswa dijadikan tempat  parkir mobil. Saya juga tidak tahu, apakah mobil itu milik tamu pejabat, dosen atau mahasiswa. Saya hanya tahu, tempat ini telah mengganggu stabilitas dan mobilitas warga FBS. Tahun 2011-2012 mobil-mobil itu belum ada, dan kini jumlah kendaraan orang-orang hight class itu jumlahnya lebih dari tiga. Bisa dibayangkan di tahun ketika Anda menjabat sebagai ketua BEM ke depan.



Pak Ketua,

Saya tidak habis pikir, jika mobil-mobil itu milik dosen kita, dan sangat disayangkan jika martabat dan pangkat mereka disetarakan dengan keberhasilannya mengendari roda empat tersebut. Saya begini bukan iri hati, bukan pula sinis pada dosen, atau apatis terhadap teknologi canggih tersebut. Tetapi, jika kaos oblong, celana bolong di lutut, atau rambut gondrong saja diprotes matian-matian, atau kalau tidak ikut perintah tidak dapat nilai dari dosen bersangkutan, akankah kebijakan ini imbang? Tidak. Tidak. Jelas ini yang dimaksud dengan kekerasan epistemologi.



Ketua BEM yang saya hormati,

Saya yakin, dari jurusan mana pun Anda mengambil studi,  Anda pasti membaca buku. Kalau Anda tidak suka membaca buku, saya pastikan Anda bukanlah ketua BEM Fakultas Bahasa dan Seni. Kalau begitu, mari sama-sama ke perpustakaan kita yang terletak di GK 1 bagian muka sayap barat. Anda tahu, perpustakaan ini dikenal sebagai perpustakaan yang tidak boleh berkembang! Mengapa, Mimesis buletin milik KMSI edisi keenam tahun 2014 meliput peristiwa itu, mewawancarai Dr. Widyastuti Purbani, MA. wakil dekan I FBS. Atau, Anda bisa temukan juga investigasi ini saat Aksara buletin bulanan Kreativa yaitu tahun 2013 lampau.


Begini, Pak Ketua BEM,

Kebijakan perpustakaan di UNY bersifat sentralistik, demikian juga yang dikatakan Dr. Widyastuti Purbani, MA. wakil dekan kita sekarang. Kata beliau lagi, Perpustakaan FBS kita tidak boleh membesar. Dari pihak dekanat juga tidak ingin membesarkan perpustakaan fakultas karena fungsinya mengakomodasi yang tidak terakomodasi di perpusktaan universitas (hlm. 4). Ya, begitu kata beliau. Apa yang saya katakan pada Anda tidak ada maksud provokatif. Saya tahu Bu Widi pun tidak bisa apa-apa ketika apa yang disampaikannya pada Mimesis adalah kebenaran dari rektorat. Perlu Anda tahu, perpustakaan kita ini melakukan pengadaan buku yaitu pada tahun 2010. Selebihnya buku-buku tersebut didapatkan secara suka rela dari pengarangnya.


Akhir dari investigasi Aksara dan Mimesis tidak membuahkan hasil. Kata-kata mereka hanyalah teriakan yang tidak perlu didengar. Pers kita di fakultas ini adanya seperti tidak adanya. Pers kita lalu tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi, saya sebagai warga FBS masih optimis, menaruh kepercayaan serta loyalitas seorang ketua BEM yang suaranya dapat didengar oleh seluruh warga FBS mulai dari tukang parkir, satpam, cleaning service, hingga ruang-ruang berdingin dosen kita.


Sebagai ketua BEM, Anda tahu di sana bukanlah tempat rekreasi atau tempat untuk menemukan pengalaman indah dan inspiratif. BEM adalah pejabat tertinggi dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang berkantor di Pusat Kegiatan Mahasiswa. Saya yakin siapa pun Anda juga tidak akan banyak memihak orang-orang yang mendukung Anda saat kampanye. Anda sekarang pasti menganggap, lawan Anda tersebut bukanlah gunung yang membentang yang mencegah gerak Anda ke kursi Ketua BEM. Lawan Anda adalah saksi kreatif, yang selalu memberi Anda tantangan dan stimulus demi membangun FBS yang berbudaya ke depan. Bagi saya, ketua BEM yang baik adalah pribadi yang menjadi tiang sandaran sekaligus kabel penyalur mahasiswa ke birokrat FBS.


Pak Ketua,

Ada banyak hal yang ingin saya tunjukkan kepada Anda. Termasuk Pendopo Tedjokusumo, misalnya. Tentu Anda tahu setiap Ormawa yang hendak memakai tempat itu harus menyewa. Sepertinya, perbincangan kita ini sampai di sini dulu. Suatu hari nanti, di tengah kesibukan dan semangat Anda, saya akan dengan lancang mengajak Anda mengobrol lagi tentang kampus kita. Jaga kesehatan dan selamat beraktivitas.



Mawaidi, tinggal di kampuskata@yahoo.com

Sumber:http://novtani.wordpress.com

Minggu, 30 November 2014

SUKSES SEMNAS: PESERTA MEMBLUDAK

Suasana Seminar Nasional Kepenulisan bersama Tere Liye UKMF KM Al-Huda |sumber: dokumen pribadi   



Pagi itu, Minggu 30 November 2014, hujan mengguyur kota Yogjakarta dengan cukup deras. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat para peserta Seminar Nasional Kepenulisan bersama Tere Liye yang diadakan oleh Bidang Media dan Wacana UKMF KM Al Huda FBS UNY. Terbukti dengan para peserta yang sudah hadir pada pukul 07.00 meskipun mereka harus menunggu untuk memasuki ruangan karena acara memang dijadwalkan pada pukul 07.30. Semangat dan antusiasme para peserta seminar ini membangkitkan semangat para panitia yang awalnya sedikit kewalahan dengan pendaftar yang melebihi kuota. Pada awal rencana, acara yang bertema “Menulis Lepas dan Berkualitas” ini akan diadakan di ruang seminar PLA Fakultas Bahasa dan Seni dan hanya terbatas untuk 300 pendaftar, namun dikarenakan keinginan pendaftar yang di luar rencana sehingga ruangan dipindah di KPLT FT UNY yang cukup untuk menampung 450 peserta.

Sesuai namanya, Seminar Nasional Kepenulisan ini tidak hanya dihadiri oleh kalangan FBS atau UNY saja, bahkan ada beberapa yang rela jauh-jauh dari luar kota hanya untuk mengikuti seminar bersama Tere Liye ini. Acara ini memang bukan pertama kalinya diadakan oleh Al Huda, atau BMW khususnya, tahun lalu Seminar Nasional Kepenulisan ini menghadirkan pembicara yang berbeda,  Kalau tahun lalu pas Pak Habiburrahman, peserta sekitar 100 sampai 200an. Kalau tahun sekarang 450an”, ungkap Yunan Adi Putra selaku ketua panitia acara ini. 

Banyaknya pendaftar yang melebihi kuota ini dikarenakan pemilihan pembicara yang memang sedang hangat di kalangan mahasiswa. Pemilihan pembicara ini pun tidak semata-mata ditentukan oleh pihak panitia secara sepihak, sebelum para panitia menentukan pembicara, mereka menyebarkan polling terlebih dahulu, “Jadi kan emang diawal kita membagikan polling. Kenapa kita memilih Pak Tere Liye karena dari polling banyak yang memilih Pak Tere Liye”, Jelas Yunan.

Para peserta terlihat antusias mengikuti materi terkait kepenulisan yang disampaikan pembicara, terbukti dengan banyaknya para peserta yang mengangkat tangan untuk bertanya saat pembicara selesai menyampaikan materi. Namun dikarenakan keterbatasan waktu, Ardian Rofiq Alghozali mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY, yang dalam acara ini selaku moderator, hanya memilih 10 orang untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan para penanya dijawab dengan padat dan jelas oleh Tere Liye sesuai dengan gayanya yang memang santai dan tidak senang bertele-tele. Bahkan berkali-kali Tere Liye yang hadir dengan kaos dan celana jins itu menegaskan bahwa beliau tidak berkenan untuk difoto. Hal ini memang membuat beberapa peserta kecewa, seperti yang diungkapkan oleh Evania, BSI 2012, “mungkin lain kali kalau mendatangkan penulis yang terkenal ada waktu buat para peserta lebih dekat dengan penulis, ada sesi foto-foto..”. akan tetapi keluhan peserta ini langsung ditanggapi oleh Aji Dwianto selaku koord. Sie acara, bahwa memang dari pihak Tere Liye yang tidak berkenan adanya sesi foto-foto, “Tadi panitianya pun tidak jadi ada sesi foto ya” tambah Aji dengan tertawa.

Namun secara keseluruhan, acara yang dibawakan oleh dua pembawa acara, yaitu Didi Yulianto dan Iwa ini terbilang sukses. Selain karena pembicaranya yang memang sudah terkenal, hiburan yang dibawakan oleh Java’s yaitu band akustik dari BSBK managament, mampu membuat para peserta tetap di bangkunya walaupun pembawa acara sudah mengucapkan salam penutup. “Saya mengikuti agenda ini sangat senang sekali ya, apalagi di event kali ini UNY tampil beda, rame banget, pokoknya mantep deh” ungkap salah satu mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Mercu Buana,
saat ditanya mengenai keseluruhan acara. (Aziz)