Label

Tampilkan postingan dengan label NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASIONAL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

SAAT SEMUA AKAN BERAKHIR ?

Sumber gambar: huffingtonpost.com

| Rio Anggoro Pangestu



Are you oke? Kalimat yang dibuat oleh Hazel dan Augustus untuk memberi respon keadaan mereka berdua. Semenjak mereka menjalin hubungan sepasang kekasih yang saling menyayangi untuk kesehatan mereka masing-masing: kanker. Kata yang tidak bisa dihindarkan oleh takdir mereka berdua. Penyakit ini bersarang pada tubuh mereka masing-masing sejak usia mereka beranjak dewasa.

Hazel penderita kanker thyroid yang terus berkembang di paru-parunya. Ia terus berusaha untuk selalu baik agar kanker yang dideritanya tidak menyebar lebih buruk pada tubuhnya. Hazel tidak sendiri untuk mengalami penderitaan kanker, ada sebuah grup penderita kanker untuk saling berbagi cerita tentang kanker yang diderita masing-masing. Dan pada grup inilah Hazel dipertemukan dengan Augustus. Augustus penderita kanker Osteosarcoma yang menggerogoti tubuhnya. Kisah percintaan mereka berdua dimulai.

Awal cinta mereka dimulai pada pertukaran buku “An Imperial Affliction” dan “contra Insurgent”. Jalinan kasih yang berbeda dengan pasangan normal biasa ini pun sangat romantis untuk dilihat ataupun dicerna. Seperti melihat sepasang merpati yang sedang terluka parah dan hampir mati, akan tetapi sepasang merpati ini saling menjaga untuk membuat kebahagiaan sepasang merpati ini. Hazel dan Augustus mereka berdua penderita kanker ganas, dengan kesempatan hidup yang sangat sedikit.

Amsterdam. Kota tujuan mereka berdua untuk melihat penulis buku “An Imperial Affliction”. Hazel yang sangat ingin pergi ke kota tersebut karena ia sangat terinspirasi buku yang ditulis oleh Louis van Houten tersebut. Buku itu membuat Hazel bisa berpikir positif untuk hidup. Tidak berbeda dengan Augus yang memang ingin membahagiakan Hazel untuk bertemu penulis buku “An Imperial Affliction”  tersebut. Seminggu kemudian mereka berangkat ke Amsterdam untuk mengunjungi Louis van Houten.

Pertemuan dengan Louis van Houten dimulai. Keinginan Hazel bertemu dengan Louis van Houten adalah pertemuan yang menyenangkan dan memuaskan. Tidak untuk saat ini untuk Hazel saat bertemu langsung dengan Louis van Houten. Sikap Louis yang angkuh dan terbilang sombong untuk bertemu dengan tamunya tidak membuat nyaman untuk Hazel dan Augus. Mereka berdua tidak habis pikir dengan hal itu. Kecewa kata yang pantas untuk pertemuan mereka berdua dengan Louis van Houten. Akan tetapi kekecewaan mereka bisa terhapus dengan melihat sejarah yang lebih menyedihkan dan nyata dari kisah Anna Frank. Anna Frank seorang yang dibunuh pada zaman perang di Eropa.

Penyakit kanker mulai menyebar. Kanker Osteosarcoma mulai menyebar hampir ke  seluruh tubuh laki-laki Augus. Ia lumpuh total. Bagian bawah organ tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan selayaknya lagi. Hanya kursi roda yang menjadi bagian dirinya untuk berjalan. Akan tetapi kisah percintaan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya. Karena mereka seperti sepasang merpati pemberi kasih sayang pada pasangannya.

Detik-detik di mana semua akan berakhir. Wujud nyata Augustus Waters telah menghilang untuk selamanya bagi Hazel Grace Lancaster. Ia meninggal karena kanker Osteosarcoma sudah tidak bisa dicegah untuk menyebar di dalam tubuh Augustus. Upacara kematian dimulai dan Hazel yang memberikan kalimat pidato terakhir untuk Augustus. Ditengah upacara terakhir ini Louis Van Houten datang untuk mengahadiri sekaligus memberikan surat yang dibuat oleh Augus untuk Hazel.

“kau tidak bisa memilih jika kau memiliknya dalam dunia ini, tetapi..”
“dan kau juga punya seseorang yang menyakitimu dan aku menyukai pilihanku”
“aku berharap dia menyukai pilihannya”
“oke, Hazel Grace?”

Sabtu, 01 November 2014

“MENULIS TIDA ADA BEDANYA DENGAN BERMAIN”


Berikut ini adalah terjemahan bebas atas penggalan sejumlah wawancara yang sudah diterbitkan di The  Paris Review:

Orhan Pamuk lahir di Istanbul pada tahun 1952. Hingga kini ia menetap di kota tersebut. Ia lahir di sebuah keluarga kaya yang mengurusi pembangunan jalan raya di periode awal republik Turki. Pamuk bersekolah di Robert College, sebuah sekolah elit dengan gaya pendidikan barat yang sekuler. Di masa mudanya ia begitu tertarik pada seni rupa. Namun setelah mendaftarkan diri di universitas untuk bidang studi arsitektur ia memutuskan untuk menjadi penulis. Saat ini ia adalah penulis Turki yang dibaca secara luas.

Novel pertamanya, Cevdet bey and His Sons, diterbitkan pada tahun 1982. Setelah itu ia menerbitkan The Silent House (1983), The white Castle (1985/1991 dalam terjemahan bahasa Inggris), The Black Book (1990/1994) dan The New Life (1994/1997). Pada tahun 2003 Pamuk memperoleh penghargaan sastra IMPAC Dublin  atas novelnya My Name is Red (1998/2001). Novel itu bercerita tentang misteri pembunuhan yang berlatar di Istanbul pada abad ke enam belas. Misteri pembunuhan ini diceritakan dari sudut pandang yang beragam. Tema utama yang dieksplorasi oleh Pamuk dalam setiap fiksinya adalah kebimbangan identitas sebuah negeri yang terombang ambing antara Timur dan Barat, persaingan antar saudara, eksistensi ganda, nilai keindahan dan keaslian, dan kecemasan akan pengaruh budaya. Snow (2002/2004), menyoroti radikalisme  agama dan politik, novel ini juga merupakan novel pertamanya yang mengetengahkan isu ekstremisme politik Turki kontemporer. Buku ini menjadikan namanya dikenal secara meluas meskipun menuai pro dan kontra di Turki. Buku terbarunya, Istanbul; Memories and The City (2003/2005), adalah potret ganda dirinyapotret masa kanak dan masa muda—dan potret mengenai kota asalnya, tempat ia menetap dan berkarya.

Tempat Menulis


Menurutku harus ada pemisahan antara tempat di mana kamu tidur dan tempat di mana kamu menulis. Segala hal yang berkaitan dengan ritual kehidupan sehari-hari dapat mematahkan imajinasiku. tetek bengek keseharian membunuh iblis dalam diriku. Hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, dan rutinitas sehari-hari bisa menyingkirkan "dunia lain"-ku, dunia di mana imajinasi mestinya bekerja perlahan-lahan akan lenyap. Sebab itulah, selama bertahun-tahun, aku selalu memiliki ruang kerja, atau sebuah ruang kecil di luar rumah, di sanalah aku menulis karya-karyaku. Aku selalu memiliki apartemen yang berbeda. Satu untuk menulis dan satu untuk aktivitas lainnya.

Namun pernah suatu ketika aku menetap selama setengah semester  di Amerika Serikat, saat itu aku menemani istriku (saat ini kami sudah bercerai) yang tengah menyelesaikan gelar Ph.D nya di Universitas Columbia. Kami tinggal di apartemen khusus mahasiswa yang sudah berkeluarga. Apartemen itu tidak memiliki ruang lebih, sehingga aku harus tidur dan menulis di tempat yang sama. Ini membuatku gelisah. Pada pagi hari aku pamit kepada istriku layaknya orang yang hendak berangkat kerja. Aku meninggalkan apartemen, mengelilingi beberapa blok kemudian kembali ke apartemenku seperti seorang yang baru saja tiba di tempat kerjanya.

Sepuluh tahun yang lalu aku tinggal di sebuah apartemen yang menghadap ke selat Bosphorus lengkap dengan pemandangan kota tuanya, mungkin, ini adalah salah satu pemandangan terbaik di Istanbul jarak antara tempat tinggalku dengan apartemen khusus menulis itu hanya sekitar 25 menit dengan berjalan kaki. Ruangan itu sarat dengan buku dan meja kerjaku menghadap ke arah pemandangan. Di sanalah setiap hari aku menghabiskan waktu sekitar 10 jam.

Menikmati Proses Menulis


Rata-rata aku bekerja selama 10 jam dalam satu hari. Aku adalah seorang pekerja keras. Aku begitu menikmati pekerjaanku. Orang bilang aku ambisius, mungkin ada benarnya juga. namun aku memang benar-benar mencintai pekerjaanku. Aku nyaman duduk berlama-lama di meja kerjaku seperti anak kecil yang asyik dengan mainannya. memang ini adalah pekerjaan, namun ini adalah pekerjaan yang menyenangkan, lagi pula bagiku menulis tidak ada bedanya dengan bermain.

Penulis-Penulis yang Mempengaruhi Pamuk


Tolstoy, Dostoyevsky, Stendhal, Thomas Mann, merekalah yang kuanggap penulis terbesar saat aku mulai  menggeluti dunia menulis. Sedang pahlawan idolaku adalah Virginia Woolf dan Faulkner. Kini aku menambahkan Proust dan Nabokov dalam daftar tersebut.

Buku yang Sangat Berpengaruh


Saat aku berusai sekitar 21 atau 22 novel The Sound and The Fury, karya Faulkner memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diriku. Aku membeli edisi  penerbit Penguin. Novel itu sangat sukar kupahami, apalagi bahasa Inggrisku buruk. Namun kemudian aku mendapati novel tersebut dalam edisi terjemahan bahasa Turki yang sangat bagus. Maka aku membacanya secara bersamaan. Aku membaca setengah paragraf dalam bahasa Inggris kemudian setengah paragraf dalam terjemahan bahasa Turki. Buku itu begitu membekas bagiku.

Pengalaman Pertama Menerbitkan Buku


Di usia dua puluhan aku tidak memiliki teman dalam kancah kesusastraan. Aku tidak terlibat dalam kelompok sastra mana pun di Istanbul. Satu-satunya agar karya pertamaku bisa diterbitkan adalah dengan cara mengikuti sayembara sastra khusus naskah yang belum pernah diterbitkan. Aku mengikuti sebuah sayembara sastra dan aku keluar sebagai juara. Sebagai pemenang karyaku akan diterbitkan oleh penerbit ternama. Namun saat itu keadaan ekonomi Turki terpuruk. Pihak penerbit mengontrak novel pertamaku namun mereka menunda penerbitannya.

Tentang Membicarakan Novel yang Sedang dalam Proses Pengerjaan


Aku tidak pernah menceritakan novel yang tengah kukerjakan. Dalam acara formal, ketika seseorang bertanya tentang apa yang tengah aku tulis. Aku memiliki jawaban andalan: Novel yang sedang kutulis mengambil latar Turki kontemporer”.

Realisme Sosialis vs. Eskperimentalis


Para pengarang yang merasa memiliki tanggung jawab sosial, para pengarang yang beranggapan bahwa sastra harus mengabdi kepada moralitas dan politik, bagiku mereka terlalu datar, tidak eksperimental. Pengarang-pengarang yang berpandangan semacam ini biasanya tinggal di negara berkembang, mereka menyia-nyiakan bakat yang mereka punya hanya untuk melayani tanah air mereka. Aku tidak ingin menjadi pengarang semacam itu. Ini disebabkan oleh bacaanku sewaktu muda. Aku menikmati karya-karya Faulkner, Woolf, Proust—aku tidak pernah berharap menjadi seorang penulis realisme sosialis seperti Steinbeck dan Gorky. Karya sastra yang dihasilkan pada dekade 60 dan 70 sudah ketinggalan zaman. Aku hadir sebagai generasi baru.

Novelis Adalah ...


Seorang Novelis sejatinya adalah seorang yang menempuh jarak dengan penuh kesabaran, begitu sabar, begitu perlahan, seperti semut. Seorang novelis memberikan kesan mendalam kepada pembaca bukan dengan visi romantik bukan pula dengan visi-visi gaib, ia menanamkan kesan mendalam itu dengan kesabarannya.

Teknis Menulis Novel ala Pamuk


Membagi sebuah novel ke dalam beberapa bab sangat penting bagiku. Ketika tengah menggarap sebuah novel dan aku mengetahui garis cerita secara keseluruhan, aku akan membaginya ke dalam beberapa bab, lalu aku memikirkan detail-detail yang harus aku kerjakan dalam tiap bab tersebut. Aku tidak selalu menulis novelku secara runut. Ketika aku buntu, ketika tak ada lagi sesuatu yang bisa kutuliskan, aku akan menulis semauku, aku menuliskan apa saja yang terlintas dalam benakku. Adakalanya aku menulis novel secara berurutan dari bab satu hingga bab lima dan ketika aku mulai jenuh aku langsung melompat ke bab lima belas.

Keluarga


Ibuku khawatir dengan keputusanku untuk menjadi penulis. Namun ayahku mentolerir keputusanku. Sebab pada masa mudanya ia bercita-cita menjadi seorang penyair, ia menerjemahkan puisi-puisi Valery ke bahasa Turki, namun ia menanggalkan cita-citanya karena diejek oleh kawan-kawannya, orang-orang kelas menengah ke atas.
Keluargaku tidak menerima keputusanku menjadi novelis, namun menerima keputusanku menjadi seorang pelukis. sebab mereka berpikir bahwa aku tidak mungkin menjadi pelukis penuh waktu. Sebagian besar keluargaku adalah insinyur. Kakekku adalah insinyur, ia kaya  karena membangun jalan raya. Paman dan ayahku tidak seberuntung kakekku, namun mereka pun mengenyam pendidikan di jurusan Teknik, di Universitas Teknik Istanbul. Mereka pun berharap aku kuliah di jurusan teknik, dan aku mengiyakan keinginan mereka. Namun semenjak aku menunjukkan bakat seniku, mereka berpikir bahwa aku lebih cocok untuk menjadi arsitek. Ini menjadi solusi yang memuaskan semua pihak. Kemudian aku kuliah di jurusan arsitektur, namun dipertengahan kuliah arsitek aku berhenti melukis dan memutuskan untuk menulis novel.

*Diterjemahkan oleh Rozi Kembara, lahir di Tasikmalaya 27 Juni 1990. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS angkatan 2009.

Diambil dari: Buletin Mimesis Susastra

Minggu, 24 November 2013

ASTRID ELLENA INGIN LANJUTKAN PROYEK SOSIAL


Sebagai pemenang Beauty With a Purpose (BWAP) di Miss World 2011, membuat Astrid Ellena menyadari betul bagaimana memaksimalkan potensi diri untuk membantu orang lain. Kaki Gajah boleh jadi menjadi perantara baginya, untuk melihat dunia lebih jauh. Namun bukan hal yang mudah untuk mencapai titik itu. Ada pengorbanan dan perjuangan yang harus dia lakukan. Beberapa waktu lalu kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan interview, inilah hasil interview kami:

Kreativa            : Hallo Ellen, lama tak terdengar kabarnya, sehatkah? Sibuk apa sekarang ini?
Ellen                  : Halo, kabar baik J Sekarang saya sedang sibuk mengurus baby, sedang menikmati menjadi seorang ibu J

Kreativa            : Sekarang sudah memiliki junior, apakah ini memberikan pengaruh yang besar terhadap  kesibukan Ellen khususnya?
Ellen                  : Iya pastinya, karena sekarang waktu saya 24 jam fokus untuk mengurus baby, jadi kegiatan lainya untuk sementara ditunda dulu.

Kreativa            : Ehm…menjadi “pemecah telur” perwakilan Indonesia di ajang Miss World, bagaimana perasaan Ellen?
Ellen                  : Kaget banget ya, karena awalnya justru saya agak pesimis setelah melihat kontestan dari 112 negara lainya. Saya sama sekali tidak menyangka bisa menjadi top 15 pertama kalinya untuk Indonesia. Bangga dan bersyukur sekali.

Kreativa            : Saat itu, mengapa Ellen tertarik untuk masuk ke dunia pageant
Ellen                  : Dari kecil saya adalah orang yang amat sangat pemalu, tidak pernah berani untuk tampil di depan umum. Tapi waktu kuliah saya berpikir, kalau saya akan selalu stuck di tempat yang sama, kalau saya tidak berubah. Dan akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar miss UPH (Universitas Pelita Harapan) dan ternyata saya menang. Dari sana saya ingin menggali potensi saya lebih lagi, bukan hanya di lingkungan kampus saja tapi di Indonesia. Akhirnya saya mendaftarkan diri ke ajang Miss Indonesia.

Kreativa            : Ellen menjadi winner fast track “Beauty With a Purpose” yang mengangkat isu seputar penderita kaki gajah, bagaimana Ellen memaknai kecantikan dengan tujuan?
Ellen                  : Menurut saya, setiap manusia diberikan talenta dan kelebihan oleh Tuhan di bidangnya masing-masing. Dan itu menjadi tugas kita untuk menyalurkan kelebihan yang kita miliki untuk membantu orang lain. Begitu juga dengan pageant, bukan hanya sekedar kontes kecantikan saja tapi di Miss World kita diwajibkan untuk memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dan saya bersyukur melalui proyek kaki gajah,saya bisa membantu banyak orang.

Kreativa            : Segala bentuk kesuksesan tentu membutuhkan usaha, boleh diceritakan bagaimana perjuangan, kerja keras, dan dedikasi Ellen selama ini?
Ellen                  : Sewaktu karantina Miss Indonesia, saya mengalami sakit mata dan saya tidak bisa mengkuti banyak kegiatan. Saya juga menjadi sangat minder dan bahkan ingin mengundurkan diri, tapi dengan support dari keluarga dan teman-teman, saya tetap bertahan dan berdoa, berharap sakit mata saya sembuh sebelum malam final. Dan 2 hari sebelum grand final, mata saya benar-benar sembuh. Kuncinya adalah jangan pernah menyerah, karena kesempatan belum tentu datang dua kali. Tidak ada masalah yang tidak bisa kita lewati asal kita tetap berusaha dan berdoa. Lalu begitupun saat Miss World, walaupun banyak orang pesimis karena Indonesia belum pernah lolos sebelumnya, saya tetap berusaha keras untuk mewakili Indonesia sebaik mungkin, dan puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk lolos menjadi semifinalist.

Kreativa            : Masih sering terlibat project sosial?
Ellen                  : Untuk saat ini belum karena saya masih fokus untuk mengurus baby, tapi kalau anak saya sudah mulai besar saya berharap bisa melanjutkan proyek sosial saya.

Kreativa            : Kontroversi, merupakan hal yang lumrah untuk seorang public figure, (dan hal ini pernah Ellen alami pasca terpilih sebagai Miss Indonesia 2011), bagaimana Ellen menyikapi kontroversi dan bashing?
Ellen                  : Saya berusaha menjadikan kritik sebagai motivasi saya untuk menjadi lebih baik lagi. Saya berusaha untuk prove them wrong, bukan hanya melalui kata-kata tapi prestasi.

Kreativa            : Kira-kira apa rencana Ellen untuk ke depannya?
Ellen                  : Untuk sekarang saya masih mau fokus ke keluarga dulu, tapi kedepanya saya berharap bisa melanjutkan proyek sosial kaki gajah saya, karena masih banyak penderita kaki gajah di luar sana yang sangat membutuhkan bantuan terutama di daerah terpencil.

Kreativa            : Terakhir, tahu nggak sih, banyak yang kangen dengan Ellen? J Apa yang hendak Ellen sampaikan kepada mereka, khususnya generasi muda?
Ellen                  : Masa sih J… pesan saya, you won’t get anywhere if you don’t start, jangan pernah takut untuk mencoba, jadikan kelebihan dan talenta yang kita miliki untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Terima kasih Ellen, semoga sukses selalu dan apa yang diharapkan bisa segera terealisasi. J Salam hangat, dari keluarga LPPM Kreativa FBS UNY.

Interviewer: Okta Adetya

CURRICULUM VITAE

Education
Formal:              

 2008 - 2013        International Relations concentrating in international  trade

                                 Pelita Harapan University, Tangerang, Indonesia
                                 GPA: 3,90 / 4,00

2004 - 2008       Quince Orchard High School, Maryland, United States
                                 GPA: 3,92 / 4,00
2002 - 2004       Cita Hati Middle School, Surabaya, Indonesia

Informal:
1997 - 2003       Galaxy Piano School, Surabaya, Indonesia
Achievement
07/2012           8 Most Influential Woman in Indonesia MNC Lifestyle Award
02/2012            Indonesia’s 50 Beautiful Women Highend Magazine Award
11/2011            Top 15 Miss World 2011
11/2011           Top 11 Miss World Talent 2011
11/2011           Miss World Beauty With a Purpose 2011
06/2011            Miss Indonesia 2011
06/2011            Miss Kulit Cantik Indonesia 2011
06/2011            Miss Favorite Indonesia2011
10 / 2009            Best Writing in Putera – Puteri Kampus Indonesia 2009
04 / 2009            Miss UPH Scholar
04 / 2009            Miss Photogenic UPH Scholar
02 / 2008            Maryland Distinguished Scholar, Honorable Mention
2004 – 2008       Student of the Year
2004 – 2008       Honor Rolls
2004 – 2008       Perfect Attendance
2002 – 2004       Best Character and Highest Grade Achievement

Skills and Capabilities

Cultural                Fluent in English,  Basic Spanish and Mandarin
Technical            Proficient with a wide range of operating system and software application including Excel, Word, Power Point                                

Experience

06/2011            Star Media Nusantara, Jakarta, Indonesia
to present          Talent

06/2011            Miss Indonesia Organization, Jakarta, Indonesia
to 04/2012

08 / 2010             HMJ-HI UPH, Karawaci, Indonesia
to 08/2011          Secretary

07 / 2010             PT. Arpeni Line Pratama, Jakarta, Indonesia
to 08 / 2010        Intern at the Agency Department

01 / 2008             Genealogy Doctor’s Office, Maryland, United States                 to 06 / 2008        Administrator and Nurse

01 / 2008             Quince Orchard High School, Maryland, United States
to 06 / 2008        Administrator and Students’ Aide

01 / 2007             Forever 21, Maryland, United States
to 03 / 2007       Sales Associate

Sabtu, 16 November 2013

NIDUPARAS ERLANG: MENULIS CERPEN LARI DARI REALITAS


HUJAN berbentuk gerimis di luar ruangan. Hujan itu titik atau garis? Saya tidak peduli. Saya memperhatikan layar komputer. Tentu tujuan awal adalah berbincang-bincang dengan penulis yang kebetulan malam ini, malam Minggu (16/11), sedang menggelar akun facebook. Topik perbincangan akan diarahkan ke seputar proses kreatif menulis. Mengingat saya juga pemula dalam menulis, mengingat sekumpulan kru Kreativa angkatan 2014 yang pemula dan sebagai sambutan kepada mereka. Saya menganggap perbincangan malam ini sama seperti perbincangan saya sewaktu berjumpa dengan Nidu di kampusnya tahun 2012.

Tentang nara sumber malam ini adalah Niduparas Erlang, lelaki kelahiran Serang 11 Oktober 1986. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra  Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Bukunya La Rangku meraih anugerah Festival Seni Surabaya sebagai kumpulan cerpen terbaik 2011. Dan diundang dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Bali pada Oktober 2012. Sekarang, Nidu (sapaan akrabnya) menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Banten Muda.

***

Kreativa: Mau wawancara kamu dong. Masih lama kan fb-annya?

Niduparas Erlang: Wawancara apa? masih lama kok...

Kreativa: Hehe. Ada deh, terkait dengan proses kreatif menulis. Oia, sebelumnya kamu pernah bergabung di kewartawanan?

Niduparas Erlang: Sampai saat ini masih. Cuma agak keren. Sekarang aku Pemred Tabloid Banten Muda. Hehehe

Kreativa: Mantap. Yang mendorong kamu menulis cerpen apa?

Niduparas Erlang: Karena aku tak bisa jadi petani, tak kuat angkat cangkul dan turun ke sawah, lagipula orangtuaku tak punya sawah, jadi aku tak bisa jadi petani. Makanya aku nulis...

Kreativa: Haha. boleh-boleh. Tentang ide dalam tulisanmu?

Niduparas Erlang: Ide mah dari mana saja. Tapi memang aku labih banyak mencatat hal-hal yang remeh-temeh yang bisa ditemui di mana saja: kecoak yang terjepit palang pintu, tumpahan kopi pada karpet ruang tamu, kucing belang dua yang menggaruk-garuk mukanya dengan kaki-kanan belakangnya, pecahan tembikar pengganjal kaki meja, cangkang kemiri yang kalah dan pecah, dan lainnya. Biasanya catatan-catatan semacam itu cukup membantu ketika aku mau menulis...

Kreativa: Di luar itu, apa juga menghindari tema petani dan kehidupan sosial lainnya?

Niduparas Erlang: Tidak juga. Cerpen-cerpenku memang tidak secara eksplisit membicarakan petani, tapi toh setting tempat yang juga tak eksplisit itu berada di kampung-kampung yang tak jauh dari kehidupan petani atau peladang. Sampai saat ini aku masih terus berupaya menggali-gali khasanah di kampungku sendiri, mempelajari orang-orangnya, kebiasaannya, cara-cara mereka beraktivitas dan sebagainya. Tapi rasanya ada juga aku menyinggung soal petani. Misalnya dalam cerpen yang dulu dimuat Kreativa (Seruncing Hangat Cengkeh-red) itu kan petani cengkeh, ada juga terkait petani tembakau.

Kreativa: Termasuk salah satu di antaranya ada banyak ditulis olehmu di La Rangku ya? Sejak menjadi pemula dalam proses menulis, siapa saja penulis yang jadi kiblatmu?

Niduparas Erlang: Beberapa iya. Kalau ditanya kiblat dalam menulis aku tak bisa jawab. Aku membaca karya para penulis pendahulu, tapi apakah aku berkiblat pada salah satunya, rasanya tidak. Dulu aku menyukai gaya Puthut EA, lalu menyukai gaya Linda Christanty, James Joyce, Kafka, Umberto Eco, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Trianto Twiwikromo, Nukila Amal, dll. Tapi rasanya aku tidak berkiblat juga. Mungkin sebagian mempengaruhiku, mungkin juga tidak.

Kreativa: Iya, tampaknya aku melihat Puthut EA di dalam cerpenmu Sesuatu Retak di Senja itu. Tapi itu tak menghilangkan ke-Nidu-anmu. Termasuk banyak penulis lainnya, termasuk Betrand Russel sekalipun. Dalam menghadapi hambatan menulis, kamu menyikapinya seperti apa?

Niduparas Erlang: Kalau mentok menulis, aku jalan-jalan, nonton, kencan-kencan, godain perempuan. Hehehe... Beberapa tulisan malah harus mengalami riset kecil-kecilan...

Kreativa: Berarti kewartawananmu sekarang semakin mendukung apa tidak dalam menulis cerpen? ada beberapa cerpenmu yang kamu maksud harus melalui riset kecil?

Niduparas Erlang: Kewartawanan kadang-kadang mendukung kadang-kadang tidak. Karena sebenarnya, ketika menulis cerpen, aku lebih sering kepingin melarikan diri dari realitas yang dianggap fakta dalam berita. Realitas dalam berita-berita yang kutulis, kadang-kadang jauh lebih dahsyat dan tidak logis ketimbang cerpen yang masih saja menuntut kelogisan cerita. Juga ingin melarikan diri dari kehidupanku sendiri. Hahaha. Kadang-kadang, untuk memastikan sebuah deskripsi, aku mesti mengalaminya sendiri. Semacam itulah riset kecil-kecilan. Tapi tak semua.

Kreativa: Kesibukan makin bertambah nggak sejak berada di keredaksian Banten Muda, ditambah momong bini.

Niduparas Erlang: Hahaha... lebih asyik menulis itu ketika masih jomblo. Karena ketika menulis, dan tiba-tiba harus ke luar untuk memastikan apa yang sedang kutulis, bisa langsung pergi. Sekarang nggak bisa begitu.

Kreativa: Hihihihi. Itulah resiko jadi suami yang sayang sama istri. Wawancaranya sudah mendekati penutup. Tapi ada beberapa hal lagi nih: Cerpen bagus menurutmu seperti apa dan bagaimana?

Niduparas Erlang: Cerpen yang menghantam kepala dan membekas lama dalam benak pembacanya.

Kreativa: seperti yang kamu tulis di sini: http://niduparas.blogspot.com/2013/02/niduparas-erlang.html ?

Niduparas Erlang: Itu hanya salah satunya. Beberapa cerpen Raudal Tanjung Banua, misalnya. Masih kuingat sampai saat ini. Di antaranya Cerobong Tua Terus Mendera, dan Pusaran Lubuk Pengantin. Walaupun, kalau tak salah, aku membaca cerpen-cerpen itu sekitar tahun 2005 atau 2006. Kukira yang membekas lama semacam itulah yang asyik.

Kreativa: Terakhir ada semacam testimoni nggak selama menjalani hari-hari dengan menulis? lalu apa yang kamu harapkan dari menulis (terkait dengan kredo banyak penulis bahwa menulis tidak bisa menghidupi)? Hehehe.

Niduparas Erlang: Ah, aku mah menikmati saja hidup sebagai penulis. Memang selama ini aku makan dan kuliah dari mana kalau bukan dari menulis. Dan kurasa, kegiatan atau pekerjaan lain seperti menjadi editor, dipercaya menjadi juri, memberi kuliah di kelas-kelas menulis kreatif, itu semua justru efek samping dari menulis. Punya bini juga duitnya dari mengedit. Sebagian dari honor beberapa cerpen.

Kreativa: Hehe. Sip. Sampai di sini dulu ya wawancara kita. Terima kasih ya, Nidu...



Oleh: Mawaidi (Redaksi)