Label

Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

MENGHADAPI MASALAH MENURUT PANDANGAN ISLAM

Menurut Hudojo (1990: 32) masalah adalah pernyataan seseorang, di mana seseorang tersebut belum mempunyai aturan atau hukum tertentu, yang dapat digunakan untuk menjawab pernyataan itu.

Masalah sering dijadikan alasan seseorang untuk tidak berkembang. Atau melampiaskan suatu amarah terhadap objek tertentu. Di mana objek tersebut bisa berupa benda, manusia, atau (lebih ekstrem lagi) menyalahkan Tuhan.

Untuk alasan yang terakhir itu, yang sering kita temui kejanggalannya. Tuhan Yang Maha Benar, masih saja mendapat pelampiasan amarah dari manusia. Hal ini yang hangat diperbincangkan dunia umum. Perihal masalah, manusia, dan Tuhan. Bagaimana peran Tuhan dalam masalah ini? Bukankah semua hal telah diatur oleh Tuhan? Tentang masalah, bukankah ini juga ‘permainan’ Tuhan?

Orang yang sering menyalahkan Tuhan, terkadang memang berpikir se-ekstrem itu. Mengembalikan semua hal kepada Tuhan-nya. Kembali pada ke-Maha Kuasaan Tuhan. Kembali kepada hak prerogatif Tuhan. Di mana Tuhan bertindak sebagai dalang, dan manusia sebagai wayang.

Padahal, tidak seperti itu. Tuhan memang punya hak mutlak atas kehidupan manusia. Tetapi, Tuhan (pasti) juga memikirkan hal-hal yang di mana itu bukan lagi menjadi kekuasaan-Nya. Di mana Tuhan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia. Misal, Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia, sebelum manusia itu mengubahnya sendiri (Q.S. Ar-Raad: 11). Jadi, Tuhan memang mempunyai rencana tertentu untuk kehidupan kita. Tetapi, tidak mutlak semua (harus) sesuai rencana awal. Sebab, ada bagian-bagian tertentu, yang di daerah itulah kekuasaan manusia dibebaskan oleh Tuhan. Tempat di mana manusia bisa berekspresi. Bagaimana menjalin hubungan sesama manusia, dan sebagainya.

Lalu, kenapa terkadang ada seseorang yang masih mempunyai masalah dan tidak bisa mengatasinya? Sebenarnya ini adalah hal sepele. Di mana peran manusia sangat penting dalam hal ini. Ketika kita membaca firman Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban--masalah, melebihi kemampuan kita. Maka, kita wajib mempercayainya. Sebab, Kebenaran Tuhan adalah hal mutlak. Namun, perlu kita kaji, apa yang dimaksudkan dalam hal ini.

Ketika seseorang mempunyai masalah, lalu, stress akibat terlalu berat memikirkan hal itu. Kemudian, menimbulkan konflik, yang berujung pada penyalahan Tuhan. Kiba wajib instropeksi diri. Apakah hal demikian sudah benar? Apakah kita sudah benar-benar memikirkan jalan keluar dari masalah kita. Karena, sebenarnya, jika kita mau mencoba untuk mencari suatu hal--baik jalan keluar atau yang lain--secara sungguh-sungguh, kita pasti bisa mendapatkan hal itu. Hanya saja, terkadang kita--sebagai manusia--melupakan hal itu. Kita lebih senang menyalahkan objek lain, selain diri kita sendiri.

Memang, terkadang, menilai diri kita sendiri itu, lebih sulit. Menilai orang lain, begitu mudah. Bahkan, menjadi keseharian. Menjadi budaya dalam suatu forum tertentu. Atau, bahasa kerennya, ngerumpi atau ngegosip.

Keduanya tentu tidak seharusnya kita lakukan. Karena menilai diri sendiri lebih penting, dari pada menilai orang lain. Ingat, Tuhan itu tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. Jadi, seberat apa pun masalah kita, pasti akan terselesaikan. Entah kapan dan bagaimana itu terjadi. Yang pasti, kita hidup tidak sendiri. Untuk itulah, hablun minannas--hubungan antarmanusia--perlu kita lakukan.[*]

Jogja, Desember 2014


oleh Andrian Eksa

Kamis, 18 Desember 2014

SERBA DUA, SILA KETIGA PANCASILA MENJADI SIAL

Andrian Eka Saputra |


Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Nikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Pancasila yang semestinya menjadi landasan dalam setiap gerak bangsa dan negara, terkadang terlupakan. Karena dianggap hanya sebuah teori yang hanya perlu diketahui, dihafal, dan dibaca di upacara setiap minggunya, atau upacara-upacara tertentu saja. Seandainya saja, pancasila benar-benar menjadi landasan gerak negara, betapa hebatnya negara kita ini?

Isi Pancasila yang tertulis sebagai pembuka tulisan ini adalah siasat penulis, semoga saja bisa mengingatkan pembaca—bagi yang (barangkali) lupa. Setiap orang mempunyai hak untuk melupakan Pancasila, jika ditinjau dari pribadi individu. Tetapi, sebagai warga negara yang berlandaskan hukum, tentu tidak patut jika kita lupa. Setidaknya, ingat hafalan Pancasila itu sudah lebih baik. Akan tetapi, lebih baik lagi jika kita benar-benar mengerti, dan mampu menjalankannya.

Menjalankan Pancasila dengan semurni-murninya, memang sulit. Bahkan, bisa jadi tidak mungkin. Mengingat negara ini, semakin bubrah. Satu sama lain, antar individu, memilih menggunakan haknya untuk egois, dari pada memilih menjalankan kewajiban sebagai kesatuan yang utuh. Ini memang sah-sah saja. Tetapi, hal ini yang membuat kesenjangan antar warga negara. Padahal, dalam Pancasila, tepatnya sila ketiga, telah jelas bagaimana persatuan di Indonesia diatur oleh negara. Bahkan menjadi landasan negara.

Menurut Rukiyati (2013: 61) persatuan yang dimaksud dalam Pancasila adalah satu kesatuan utuh yang tak terpecah. Atau dalam pengertian modern, persatuan Indonesia disebut dengan Nasionalisme. Melainkan bukan sebagai chauvinisme, yang menganggap bangsa Indonesia lebih tinggi dari bangsa yang lain. Ini sama halnya dengan menambah deret kesenjangan antar bangsa.

Terkait hal tersebut, di Indonesia sendiri, memang kurang dalam hal persatuan ini. Hal ini terlihat lebih jelas, akhir-akhir ini. Setiap hal selalu mempunyai lawan tanding. Kita masih ingat, beberapa waktu lalu, negara kita ribut akan hal DPR Tandingan. Miris memang. Tapi, memang nyatanya seperti itu. Tidak ada satu bagian yang mau mengalah, sama-sama mengambil haknya untuk egois. Jika sudah seperti ini, kita melupakan landasan negara kita. Lupa, jika kita diatur oleh tatanan yang telah lama disepakati. Suatu pedoman yang (bahkan) benar-benar dimatangkan pembentukannya.

Sila yang seharusnya mampu membuat warga negara menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, malah menjadi sial. Karena sulit untuk terealisasi. Ini bukan kesalahan bangsa, tetapi kesalahan warga negara, yang lupa akan landasannya.

Semua ini bisa diatasi dengan beberapa cara. Salah satunya adalah kembali pada landasan kita, Pancasila. Kembali menelaah, apa yang seharusnya dilakukan dengan adanya aturan dalam Pancasila kita.

Semua hal memang mempunyai tandingan. Ini wajar. Ini lumrah. Tinggal bagaimana kita mampu membuatnya menjadi suatu keberagaaman yang seragam, yang padu, yang satu. Tidak menimbulkan konflik, apalagi konflik yang membahayakan bangsa dan negara.

Peran dari seluruh warga negara tentu sangat membantu. Mulailah dengan cara tidak egois. Membaca kembali kewajiban kita sebagai warga negara yang tinggal di suatu negara. Yang harus berinteraksi satu sama lain. Yang harus menghargai satu sama lain. Hingga tercipta suatu nasionalisme yang murni. Terjalin kesatuan dari kata persatuan Indonesia di sila ketiga Pancasila.[*]

Jogja, Desember 2014


oleh kreativa

Kamis, 11 Desember 2014

SAMPAIKAH PESAN KITA KEPADA PEMBACA?

Andrian Eksa |


Menyamarkan sindiran dalam karya sastra, memang ‘aman’ dari pembredelan. Sebab, karya sastra adalah pemikiran yang sering dianggap imajinatif. Dianggap tidak nyata. Meski dari karya sastra, terkadang kita jadi mengetahui suatu kejadian. Tapi, tidak mutlak, hal itu adalah sama persis dengan yang terjadi di lapangan. Beberapa pengarang menulis sebuah karya sastra apa adanya, seperti pada kejadian di lapangan, hanya saja mereka mangganti nama tokoh ataupun latar tempat. Ada pula yang menambah atau mengurangi kejadian itu. Dan ada lagi, yang membahasakan dengan bahasa lain. Dalam artian, sudah masuk dalam penyamaran kejadian. Contohnya, seorang pemimpin digambarkan dengan tokoh hewan, seorang perempuan lacur digambarkan sebagai kupu-kupu atau kunang-kunang. Itu sah-sah saja. Tapi, apa dengan cara disamarkan (baca: dikemas dengan bahasa yang lain) itu, bisa dipahami oleh si Sasaran, manusia yang disindir itu?

Terkadang, ada niat dalam diri kita hendak menegur seseorang yang kiranya melakukan kesalahan. Dikarenakan kurang sopan, atau takut dikatakan kurang ajar, kita mengemasnya dalam karya sastra. Kita berharap, dengan begitu pesan kita sampai dan sopan. Misal, kita hendak menyadarkan teman kita yang korupsi uang kas kelas, lantas hal itu kita sampaikan melalui puisi ataupun cerpen—mungkin juga karya sastra yang lain. Apa teman kita bisa sadar? Belum tentu.

Yang sering menjadi masalah adalah si Sasaran—dalam contoh tersebut adalah teman kita—belum tentu paham tentang sastra. Atau  mungkin, teman kita memahami karya sastra sebagai sebuah karya imajinatif. Karya khayal yang tidak nyata. Hanya rekaan. Tidak memiliki cerita yang nyata. Berbeda dengan ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, atau karya lainnya. Itu sangat mungkin. Sebab, seseorang yang paham dengan karya sastra pun terkadang tidak tahu, jika misalnya disindir. Lantas, apa karya sastra tetap akan menjadi pelurus penyimpangan?

Perlu terlebih dahulu kita pahami, apa yang diluruskan. Maksudnya, penyimpangan yang mana? Apa semua penyimpangan? Setelah itu, siapa yang hendak kita luruskan. Apa dia paham tentang karya sastra. Apakah nanti hal yang ingin kita sampaikan itu benar-benar sampai. Semua itu, tentu harus kita pahami terlebih dahulu. Agar kita tidak salah mengartikan. Atau kita juga tidak terburu-buru untuk mengatakan, “dasar orang tidak peka!” terhadap si Sasaran.

Memang ada, pendapat yang mengatakan jika karya sastra itu dapat meluruskan penyimpangan. Salah satunya dengan teknik menyamaran itu tadi. Lantas, bagaimana pendapat mereka tentang orang yang tidak tersindir itu? Barangkali, mereka hanya akan mengatakan seperti ini, “tugas kita sebagai penulis, ya menulis. Sebagai kritikus, ya mengkritik. Sebagai sastrawan, ya bersastra. Tapi terlepas dari itu, kita gerak dulu.” 

Tulis! Tulis! Tulis! Itu saja. Kita hanya perlu menulis, perkara apa yang kita tulis itu bisa menyadarkan si Sasaran ataupun tidak, itu subyektifitas. Sebab, ada orang yang ‘peka’ dan ada pula yang kurang ‘peka’.[*]

Jogja, Desember 2014

'Still Life with Three Books' oleh Van Gogh

Selasa, 19 November 2013

GADGET: MENDEKATKAN YANG JAUH, MENJAUHKAN YANG DEKAT


Oleh: Galuh *

ERA teknologi digital telah merambah ke semua aspek kehidupan. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi kegiatan manusia tak lepas dari teknologi digital. Semuanya jadi lebih cepat, praktis dan hemat waktu.


Misalnya dalam hal komunikasi, dahulu untuk berbicara, manusia harus bertemu, berhadap-hadapan, dan saling bertatap muka. Mereka dapat menyadari kesungguhan pembicaraan melalui gerak gerik dan ekspresi  lawan bicara. Komunikasi secara langsung ini tentu saja akan memakan waktu, belum lagi adanya kendala jarak. Kini dengan adanya handphone, jarak sejauh apapun bukan kendala dalam berkomunikasi.

Namun semakin lama ketergantungan manusia pada teknologi semakin tinggi. Era digital tidak hanya mengubah cara berkomunikasi tetapi juga mengubah pola pikir. Generasi sekarang cenderung begitu saja mengikuti arus informasi yang mereka terima sehingga pikiran mereka dibentuk oleh konten. Mereka menjadi narsis, selfish dan egois. Dimana pun mereka berada, ponsel pintar tak pernah lepas dari genggaman. Smartphone seperti Blackberry, Iphone, dan Android kian menjamur di pasaran.

Sosial media semakin ramai. Generasi sekarang lebih suka berdiskusi di dunia maya dari pada bersosialisasi dengan sesamanya. Saat mereka bersamapun mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Pikiran mereka melayang ke tempat lain. Mereka tak pernah berhenti mengecek siapa atau apa saja yang menarik perhatian di dunia maya.  Tidak salah jika ada pendapat yang mengatakan ” teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”.

Galuh
adalah anggota Magang Kreativa 2014

Minggu, 05 Mei 2013

SAUDARA

Oleh Mawaidi*

Saudara adalah saya, nabi, presiden, Anda dan sastrawan. Saudara bisa berbuat baik kepada saya, nabi, presiden, Anda sendiri dan sastrawan. Saudara harus menyapa saya di saat bertemu, mengingat nabi saat sendiri, dengan presiden melambaikan tangan saat berjumpa, boleh pada diri sendiri berbangga, dan berkumpul bersama sastrawan. Tidak boleh sekali-kali berbuat jahat pada saya, apalagi nabi, apalagi presiden, apalagi diri Anda sendiri dan bahkan sastrawan di waktu-waktu jamnya mengarang.

Saudara tidak ada hubungannya dengan Tuhan.  Tuhan adalah Tuhan yang wajib diimani bagi yang mengimaninya. Maka gempa dan longsor di Ya’an, Sichuan, China itu adalah cobaan bagi masyarakat Lushan. Posisi Saudara pada saat itu dibutuhkan; uluran tangan beserta doa kepada Tuhan. Dari kejadian ini, Saudara kemudian tidak hanya berpretensi untuk menolong saudara kandung, tiri dan sepupu.

Kamis, 28 Februari 2013

CERPEN KBE TERPILIH: YANG SOSIAL, KELUARGA, INTERTEKS DAN SENI RUPA


Harga: Rp.20.000
Oleh An. Ismanto
Ignas Kleden pernah menyatakan bahwa sebuah karya sastra bisa mencerminkan realitas sosial di sekelilingnya, tetapi bukan berarti harus. Para cerpenis yang menerbitkan karya mereka di jurnal kreatif Kreativa – kategori media yang aneh sekali – sadar atau tidak sadar membuktikan bahwa Kleden memang benar.

Senin, 08 Agustus 2011

KEHIDUPAN DI TEMPAT LAIN

Namun mengapa harus selalu terpaksa
Berpikir dengan sayapnya yang menggelap
Darimana berhembusnya angin di langit terang
Yang membikin pepohonan tanpa kegaduhan
Membungkuk dan menyimpang?
Dan suara tangis tercekik itu
Sperti burung hitam yang punggungnya berpita
Buluh dan segala rumah buta
Dimanakah adanya janji mati dengan nafas kita
Di daun jendela?
Apapun warna mantel penjaga malam
Atau seberapa panjang bulu-bulunya berputar di halaman
Apa gunanya mengingat
Lantunan tak masuk akal di senja hari sekali lagi
Di balik matahari di dalam mata perempuan kala fajar
Perempuan matahari di bawah ranting yang bergelantungan?
Seberapa banyak yang mati, mulutnya menganga pada misa
Adakah yang tersisa untuk diketahui?
Darah yang mengering, abu bakaran
Terlupakan di atas tanah dingin
Dari hutan yang menggelora atau bintang-bintang beku
Angin membuka sayap gelapnya
Tetapi apa yang bakal tetap dinyanyikan oleh sukma

Dilihat dari judul, puisi ini menceritakan suatu kehidupan lain (kemungkinan sebuah kematian). Hal ini diperkuat dengan banyaknya diksi “hitam” sebagai simbolisasi kesan duka cita.
Puisi ini diawali dengan sebuah bencana, sebuah pertanyaan retoris, siapakah yang membuat bencana itu terjadi. Hal ini digambarkan dalam sajak berikut Namun mengapa harus selalu terpaksa//Berpikir dengan sayapnya yang menggelap//Darimana berhembusnya angin di langit terang//Yang membikin pepohonan tanpa kegaduhan//Membungkuk dan menyimpang?. Boleh jadi yang diceritakan dalam puisi ini adalah sebuah bencana yang sangat tiba-tiba dan tak terduga. Tak terduga karena ada frasa langit terang.
Bencana itu menimbulkan kepedihan yang amat sangat, karena orang tersebut (lakon) mungkin mendambakan mati dalam keadaan bahagia, ditandai dengan simbolisasi Dimanakah adanya janji mati dengan nafas kita //Di daun jendela?. Simbolisasi gagak (burung hitam yang biasanya berkaok saat kematian datang, terlebih lagi bencana yang mengerikan, menggelimpangkan mayat-mayat). Buluh dan segala rumah buta, mengacu pada kepedihan dan liang lahat. Tempat dimana kita tak dapat melihat apapun.
Setiap orang dengan kepercayaan yang dia yakini, dan seberapa lama dia hidup, tak akan berguna lagi menyesali perbuatan. Ketika kematian datang menjemput, ketika orang tak akan lagi melihat kita. Apapun warna mantel penjaga malam//Atau seberapa panjang bulu-bulunya berputar di halaman//Apa gunanya mengingat//Lantunan tak masuk akal di senja hari sekali lagi//Di balik matahari di dalam mata perempuan kala fajar//Perempuan matahari di bawah ranting yang bergelantungan? Ada semacam kontradiksi sengaja diciptakan dalam puisi ini, antara kata Lantunan senja hari dan perempuan kala fajar. Senja dan fajar adalah sesuatu yang cukup jauh, fajar menyiratkan kelahiran sedangkan senja merepresentasikan kematian atau sesuatu yang hampir menghilang.
Banyak orang yang mati, dengan keadaan mengenaskan. Banyak orang yang mati, dengan keadaan penuh dosa (menganga:menunjukkan ekspresi ketakutan). Dalam Islam ekspresi ketakutan ketika meninggal merujuk kepada cara mati yang kurang baik, karena dia sudah dapat melihat ganjaran apa yang akan dia dapatkan setelah mati. Hal ini ditunjukkan pada bait Seberapa banyak yang mati, mulutnya menganga pada misa
Ketika orang meninggal, maka akan segera dia dilupakan entah itu dari keramaian (perbincangan orang-orang) atau dari hal-hal yang sepi sekalipun. Betapa di bait ini digambarkan bahwa kematian orang lain mungkin akan luput dari perhatian sesamanya. Hal ini terjadi karena setiap orang sibuk dengan urusannya, sibuk dengan kesedihannya. Coba lihat bait berikut Adakah yang tersisa untuk diketahui?//Darah yang mengering, abu bakaran//Terlupakan di atas tanah dingin//Dari hutan yang menggelora atau bintang-bintang beku
Setiap kematian akan selalu ada pertanda, bahkan alam pun ikut bicara. Keadaan mengabarkan bahwa alam pun siap untuk menyambut kematian itu. Akan tetapi apa yang dapat dilakukan manusia? Bahwa siap tak siap dia sudah tak mampu lagi untuk bertaubat. Dengan keadaan seperti itu, pakah yang dapat dilakukan oleh ruh? Kecuali menunggu hari penghakiman. Hal ini tercermn dalam bait. Angin membuka sayap gelapnya//Tetapi apa yang bakal tetap dinyanyikan oleh sukma

By: Okta Adetya, Kadiv. Litbang dan Jaringan LPPM Kreativa FBS UNY

Rabu, 29 Juni 2011

PUISI SISWA


Bingkisan
Telah ku belah matahari jadi
,delapan belas
ku kantongi dalam saku kemejaku
ku lipat bulan jadi
,sebelas
semesta jadi
,sembilan tiga
ku wadahi dalam
kotak kadoku
untuk mu


Wihdatul Wujud
:Jenar
Ingin Ku kawinkan :
siang dan malam
gunung dan laut
langit dan bumi
hitam dan putih
madu dan racun
baik dan buruk
cinta dan benci
api dan angin
air dan minyak
terang dan gelap
hidup dan mati
tapi tak ada yang mau
jadi penghulu dalam upacara
sakral mereka

sedang Tuhan dan Aku
kini menyatu


MEMBEKUKAN MATAHARI
Ida,
Aku takkan lagi mencintaimu
jika bulan membekukan
matahari
di dadaku





Siluet Sutardji Calzoum Bachri dan Universalitas Cinta
Oleh: Okta Adetya
Sebuah karya sastra, tak akan pernah ada yang murni, karena “mereka” hanya buah dari reduplikasi, tambal sulam, penggubahan, hasil identifikasi dan upaya mencacah-cacah raga kalimat. Artinya seorang penulis atau pun penyair, khususnya penulis pemula, pasti memiliki seseorang yang dijadikannya tempat berkaca. Bahkan seorang penulis Priangan Si Jelita, Ramadhan K.H pun mengaku tergila-gila dengan sastrawan Amerika Latin seperti Miguel Angel Asturias, Pablo Neruda, J. Luis Borges, dan terutama sekali F.G. Lorca, yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya.
Membaca Wihdatul Wujud, akan mengingatkan kita pada bentuk atau style puisi yang diusung oleh Sutardji Calzoum Bachri. Sebuah gaya kontemporer, dengan bahasa-bahasa mantra yang cukup unik. Lihat saja pada larik siang dan malam, gunung dan laut, langit dan bumi, hitam dan putih, madu dan racun, baik dan buruk, cinta dan benci, api dan angin, air dan minyak, terang dan gelap, hidup dan mati. Ini mirip dengan puisi Sutardji berjudul “Batu”, adapun lariknya adalah sebagai berikut, batu mawar, batu langit, baru duka, batu rindu, batu janun, batu bisu, kaukah itu. Kemiripan kedua puisi ini terletak pada kepadatan diksi serta adanya perulangan. Hanya saja puisi Widhatul Wujud, lebih memiliki citarasa lantaran dibangun oleh kontradiksi.  
            Secara substansial, Widhatul Wujud tampaknya ingin menyisipkan pesan, bahwa hidup itu selalu memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Terasa bagai minyak dengan air, tak akan pernah bisa menyatu. Hal ini coba diungkapkan penulis dalam larik yang cukup ritmis, yaitu pada kalimat Ingin Ku kawinkan. Sedangkan kegagalan atas usaha untuk melakukan pembauran kontradiksi tersebut, ditekankan pada kalimat tapi tak ada yang mau, jadi penghulu dalam upacara, sakral mereka, sedang Tuhan dan Aku, kini menyatu. Betapa penulis ingin sesuatu yang seragam, tanpa ada perbedaan-perbedaan, sehingga akan terbentuk cinta di sana. Penulis berpikir, bahwa dengan adanya keseragaman tersebut pertentangan-pertentangan dapat dihindari. Kendati kemudian dia kembali sadar, bahwa menginginkan hal tersebut sama saja dengan punguk merindukan bulan.
            Berbeda dengan puisi Mihdatul Wujud yang mencoba menguntit karya-karya Sutardji C.B, puisi Bingkisan terasa lebih kreatif dalam membungkus ide. Sekilas, puisi ini cukup sulit untuk dipahami. Akan tetapi, penggunaan kata bilangan di dalamnya, membuat esensi karya sastra bagai mengapung dalam deras alir sungai. Bingkisan yang dimaksud tak lain adalah ucapan selamat terhadap seseorang yang terlahir di tanggal 18 Desember 1993. hal ini dapat kita simak, pada penggalan-penggalan berikut Telah ku belah matahari jadi, delapan belas, ku lipat bulan jadi, sebelas, semesta jadi,sembilan tiga, ku wadahi dalam, kotak kadoku.18-11-1993.
            Betapa sebenarnya pesan cinta begitu erat mengikat. Sebuah cinta sederhana, yang diberikan seseorang terhadap orang lain. Entahlah, mungkin seorang teman, sahabat, atau kekasih. Sebuah cinta yang terasa universal.
            Ungkapan cinta yang lebih tekstual, tampaknya hadir dalam puisi Membekukan Matahari. Matahari di sini, bisa diinterpretasikan sebagai gelora cinta yang cukup besar. Apalagi bila dikaitkan dengan pertalian seluruh sajak. Mengapa penulis berani mengatakan, bahwa dia tak akan lagi mencintai seseorang bernama Ida, dengan syarat bulan mampu membekukan matahari di dadanya? Tentu karena penulis tahu bahwa matahari (cinta) di dadanya tidak akan redup, dan bulan pun tidak akan pernah bisa membekukannya. Dia mengatakan semua itu, untuk membuktikan dirinya sebagai sosok yang jantan, untuk tetap konsisten dan menjaga kesetiaan. Tema cinta kentara sekali bermain di dalam puisi ini.
Ketiga puisi tersebut cukup berhasil dan mengejutkan, karena dibuat oleh seseorang yang secara usia masih cukup muda. Akhirnya, tak ada alasan untuk tidak berproses dalam dunia penulisan. Sedikit menggubah sajak Membekukan Matahari, Aku akan berhenti berjuang dengan pena, jika bulan membekukan matahari di dadaku (dan saya berharap tak kan ada matahari yang mampu dibekukan). Atau janganlah menjadi Chairil Anwar yang sekali berarti, sudah itu mati. 
Oleh: Okta Adetya Kadiv. Litbang dan Jaringan LPPM Kreativa FBS UNY