Label

Jumat, 21 November 2014

DESEMBER: PARADE TEATER FBS UNY

Teater Sinawang latihan di halaman FBS, barat pendopo Tedjokusumo | Foto: Teater Sinawang
Desember tinggal sepekan lagi. Bagi mahasiswa FBS, Desember adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Misal, Setyoningsih mahasiswa UNS Surakarta akan datang jauh-jauh dari Solo. “Setahun lalu saya tidak bisa ke Jogja karena berbenturan dengan pentas sendiri. Desember insyaallah saya ke Jogja sambil belanja buku,” ujarnya pada Kreativa Online.

Pentas Teater tahunan oleh jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS perlu diapresiasi. Selain tontonan yang menghibur, pentas teater ini menjadi budaya di FBS oleh jurusan PBSI. Dr. Suroso, dosen drama dan pakar jurnalistik, sangat apresiatif, itulah yang dikatakannya setahun lalu, pada pentas drama jurusan PBSI angakatan 2011.

Desember nanti Teater Bahtera yang disutradari oleh Arif Wahyu Widodo tampil pada Minggu 1 Desember 2014. Pentas perdana ini cukup menarik karena menggunakan tempat di halaman Laboratorium Karawitan (Labkar). Selain membutuhkan banyak properti, pentas outdoor ini menguras tenaga. Teater Bahtera mengangkat naskah “Patung Kekasih” karya Simon Hate.

Tanggal 9 Desember Teater Sinawang mendapat giliran kedua. Sinawang mengangkat naskah “Orkes Madun atawa Umang-Umang 2”. Naskah milik Arifin C. Noor ini dipegang oleh sutradara muda Tsalaisye N Fajjriyah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angakatan 2012.

Giliran ketiga menyusul Teater Cermin mengangkat naskah “Gadi-gadis Pelagak” karya Mouliere. Cermin akan tampil di Gedung Pertunjukan Tedjokusumo, Senin tanggal 15 Desember 2014. Naskah “Gubernur Nyentrik” karya Agustan T. Syam mendapat giliran keempat pada Kamis tanggal 18 Desember 2014 di Gedung Pertunjukan Tedjokusumo. Naskah ini disutradarai oleh Weda S. Atmanegara, seorang aktor yang pernah main di beberapa pementasan bersama Assarkem. Terakhir, jatuh pada Senin tanggal 22 Desember 2014 oleh Teater Topeng. Teater pamungkas ini menampilkan naskah dramawan kawakan Nano Riantiarno dengan judul “Sampek & Engtay” dan disutradarai oleh Azizi. Pentas ini akan berlangsung di Gedung Pertunjukan Tedjokusumo FBS UNY.  (agi)

Selasa, 18 November 2014

PARA PENGGEMBIRA SASTRA INDONESIA KITA

Sumber: Lukisan S Dali | Diolah Kreativa
Di luar, sastra cyber dikenal sebagai e-sastra, meminjam istilah dalam esai Andrian Eksa, berjudul “e-Sastra dan Teror-Teror di Indonesia”. Sastra cyber pernah menjadi sebuah diskursus yang menarik di Indonesia, antara pegiat sastra cyber itu sendiri dengan ‘sastrawan media cetak’.

Munculnya sastra cyber ditandai dengan terbitnya buku kumpulan puisi Graffiti Gratitude. Puisi di dalam buku tersebut merupakan puisi-puisi yang pernah dimuat di situs cybersastra.net. Sastra cyber di Indonesia lahir pada tanggal 9 Mei 2001 di Puri Agung Sahid Jaya Hotel.[1] Sastra cyber muncul sebagai medium baru sastra Indonesia.

Ahmadun Yose Herfanda mempertanyakan mutu sastra cyber tersebut. Esai itu ia tulis di Republika dengan menyebutkan sastra cyber sebagai ‘tong sampah’ dari karya-karya yang ditolak di media cetak. [2] Sejauh ini dari tahun 2001 geliat sastra cyber memang tak pernah menjadi sebuah era baru dalam sastra Indonesia. Sastra cyber tampaknya hilang begitu saja mengikuti laju dan arus sastra Indonesia yang lain. Misal, tahun ini kita mendengar tentang Puisi Esai yang dipimpong keberadaannya. Dan mungkin tidak akan pernah ‘ada’ keberadaannya dalam sastra Indonesia.

Sastra Indonesia keberadaannya menginginkan arus yang konvensional: media cetak, (koran atau buku). Sejauh ini tampaknya hanya buku yang tak pernah diperdebatkan dalam sastra Indonesia, belum ada era baru yang mau menyaingi eksistensi buku. Sementara koran, majalah, keberadaannya pernah dipertanyakan: sebagai sastra kita yang terbatas atau yang terkekang.

Di Malaysia, seperti yang ditulis Andrian Eksa dalam esai tersebut, e-Sastra eskalasinya begitu tinggi. Kedengarannya juga sudah memasuki lembaga pendidikan. Bahkan menjadi salah satu mata kuliah ataupun mata pelajaran di lembaga pendidikan di Malaysia. E-Sastra tersebut dipelopori oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, seorang sastrawan Malaysia yang sangat memperhatikan dunia e-Sastra.

Perkembangan e-Sastra di Malaysia saat ini ataupun sastra cyber di Indonesia tahun lampau perlu kita hargai sebagai sebuah ‘penyemarak’ dalam khazanah sastra Indonesia. Malaysia tampak sebagai negara yang perkembangan sastranya terhitung ‘tertinggal’, bahkan ketertinggalaan Indonesia dalam esai Andrian Eksa, perlu dipertanyakan. Sepenuhnya apa yang diutarakan Andrian Eska tidaklah keliru. Ketertinggalan yang dimaksud barangkali dalam hal kualitas, apresiasi, atau eksistensi e-Sastra itu sendiri oleh kalangan akademik, atau kritikus sastra. Di Indonesia kalangan akademik dan kritikus sastra belum sepenuhnya menyatakan sastra cyber sebagai era baru yang harus berada di garda depan.

Setelah sastra cyber ‘lenyap’ di meja basar sastra Indonesia lalu muncul Sastra Digital yang dipelopori oleh sastrawan Cecep Syamsul Hari. Sastra Digital (sastradigital.com) bergerak di dunia maya. Di ranah penerbitan Sastra Digital telah menerbitkan Jurnal Sastra No. 1 (September 2012-Maret 2013) dan Jurnal Sastra No. 2/2013. Sejauh ini Sastra Digital yang disetir oleh Cecep Syamsul Hari tak pernah melakukan orasi untuk mendapatkan pengakuan. Sebagai sastrawan yang banyak bergerak di sastra cetak, Cecep hendak mengimbangi antara sastra cetak dan sastra digital.

Adanya satra cyber, sastra digital, e-sastra, telah ada sebagai sebuah percobaan-percobaan kecil untuk mengembangkan sastra. Di ranah kampus, kalau kita mau menoleh ke samping kita, telah ada organisasi formal yang banyak bergerak dalam perkembangan sastra. Kita tidak perlu cemburu atau pun sinis karena bagaimana pun, sastra telah banyak dicintai para kalangan. Dari para aktivis pers, hingga lembaga dakwah sekalipun. Tetapi, jika dalam perkembangan sastra muncul sebagai pergerakan sebuah era baru dan eksistensinya dipertanyakan, maka jangan salah kalau masyarakat sastra sendiri kelak akan mem-bully-nya, semisal salah seorang tokoh sastra paling berpengaruh. []

- Mawaidi




[1] Donny Anggoro, Sastra yang Malas: Obrolan Sepintas Lalu (Tiga Serangkai, 2004) hlm. 31–36.
[2] Ibid., hlm. 32.

Senin, 17 November 2014

TAK ADA HUJAN SENIN ITU: STUDI BANDING LPM DINAMIKA

PU Kreativa, Rio Anggoro Pangestu memaparkan kinerja LPPM Kreativa. Enam angota baru LPM Dinamika Stain Salatiga mendengarkan dan mencatat. | Foto: Idia|
Kreativa Online – Beruntung tidak hujan hari itu, Senin (17/11) di FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Kunjungan studi banding LPM Dinamika Stain Salatiga tiba di beskem LPPM Kreativa pukul 11.21 Wib.

Ada enam kelompok masing-masing berjumlah enam orang yang disebar di UNY dan UIN Sunan Kalijaga. Di UNY berkunjung ke LPM Ekspresi, LPPM Kreativa dan LPM Fenomena. Sementara di UIN Sunan Kalijaga tiba di LPM Arena, LPM Retorika dan LPM Paradigma.

“Semuanya dalam rangka belajar dari lembaga pers yang ada di Jogja,” ujar Alif, editor dan pendamping pada studi banding itu.


“Saya harap, teman-teman Kreativa mau meng-gemblank teman-teman anggota baru LPM Dinamika,” Uceng menambahkan. Uceng adalah pendamping kedua di antara empat pandamping anggota baru LPM Dinamika. Setelah Uceng menyerahkan waktu sepenuhnya kepada PU Kreativa, Rio Anggoro Pangestu. Pertemuan itu selesai pukul 13.30 Wib. (Agi)

Sabtu, 15 November 2014

UKT TIDAK ADIL?

|Foto: Google.com

Kreativa Online - Pendidikan merupakan  hak setiap warga negara Indonesia, sesuai dengan UUD pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Pada pasal tersebut telah disebutkan bahwa pemerintah wajib memberikan pendidikan bagi warga negaranya agar para generasi penerus bangsa dapat memenuhi haknya mengenyam bangku pendidikan. Namun, pada kenyataannya banyak kita temui ketidakadilan-ketidakadilan.

UKT atau Uang Kuliah Tunggal adalah salah satu contoh dari sekian masalah yang dihadapi para mahasiswa. UKT ditujukan agar uang kuliah bisa merata sesuai pendapatan orang tua, namun hal ini justru menimbulkan ketidakadilan bagi mahasiswa satu dengan yang lainnya. Ada mahasiswa yang mendapat UKT kecil namun sebenarnya keluarganya adalah wirausahawan yang cukup sukses. Namun, para anak PNS slalu mendapat uang UKT tinggi karena harus melampirkan slip gaji dari institusi yang berkaitan, sedangkan para wirausahawan bisa membuat surat penyataan sendiri dan kemudian ditandatangani oleh kepala desa dengan kemungkinan yang pasti disetujui. 

Hal ini tentunya  akan memancing kecemburuan antar mahasiswa. UKT yang diberikan pada mahasiswa tidak semuanya tepat sasaran. Misalnya seorang anak mendapat UKT  3 juta, lalu gaji orang tuanya  setiap bulan adalah 3 juta. Dengan UKT itu  anak tersebut  dan keluarganya akan merasa keberatan meski UKT dibayar setiap 6 bulan sekali namun jumlah tanggungan keluarga dan biaya listrik serta kebutuhan lain juga perlu diperhatikan.

Dengan demikian, ketika anak tersebut merasa keberatan dan mencoba meminta agar UKT diturunkan. Namun,   tidak mendapatkan apa yang diajukan. Kebanyakan mahasiswa yang mengajukan penurunan UKT sering dibuat bingung oleh pihak terkait, sehingga mereka lelah dan malas untuk melanjutkan misi penurunannya. Kemungkinan untuk diterimapun sangat tipis.

Seharusnya pemerintah bisa memberikan subsidi kepada mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri karena untuk menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri membutukan usaha yang keras dan mereka patut dihargai dengan subsidi yang tepat sasaran dan adil merata. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan haknya untuk terus mendapatkan pendidikan sesuai apa yang terkandung dalam pasal di atas.  (Umi F.)

SANDIWARA KAMPUNG: PANCASILA SALAM SALIM

Kamis (13/11), terjadi pertengkaran karena akhirnya Salam tahu siapa yang mencuri sumbangan untuk para warga.

Kreativa Online - Kamis (13/11), dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2014, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KAMASETRA UNY mempersembahkan sebuah pertujukan teater Sandiwara Kampung: Pancasila Salam Salim, naskah dari Hefri Muharyanto di Stage Tari Tedjakusuma FBS UNY.

Desi Ayu Utami selaku sie acara mengatakan tujuan dari acara ini adalah untuk momentum hafal dasar negara pancasila yang memuat nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir sila pancasila tidak pelak harus diamalkan agar tujuan negara Indonesia dapat tercapai. “Kegiatan ini bertujuan untuk ajang eksistensi baik maupun ajang perekrutan anggota baru UKM KAMASETRA UNY,lanjutnya.

Jalan cerita yang dipertunjukkan Sandiwara Kampung: Pancasila Salam Salim ini adalah sebuah kritik sosial terhadap pemerintah yang nyata ada pada zaman sekarang. Dimana pertunjukan itu mengingatkan pada perjuangan pahlawan yang dengan gagah berani memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mengokong senjata bermandikan darah mengusir penjajah. Sementara sekarang pada era-globalisasi, dengan semena-mena mereka para pejabat selalu membesarkan jabatan dan pendapatan tanpa memikirkan penderitaan rakyat.

Adapun tari Ngerong ikut memeriahkan Sandiwara Kampung ini. Beberapa undangan yang turut hadir yaitu Wakil Rektor III prof. Dr. Sumaryanto, M.M. Ker, Wakil Dekan III FBS Dr. Kun Setyaning Astuti, M.Pd, beberapa pejabat penting serta khalayak umum baik mahasiswa atau yang lainnya. Harapannya setelah ini akan muncul kesadaran yang positif tentang pentingnya pengamalan pancasila, menjadikan sosial-budaya menjadi lebih baik, serta terus mengingat jasa para pahlawan agar tujuan negara Indonesia dapat tercapai. (Kuki)

Kamis, 13 November 2014

E-SASTRA DAN TEROR-TEROR DI INDONESIA

Andrian Eksa |


Dewasa ini, dunia cyber atau dunia internet sudah mulai digemari masyarakat. Baik digunakan untuk pembelajaran, bisnis, ataupun kegiatan lainnya. Begitu juga dengan kesastraan di dunia.

Banyak kegiatan diskusi dilakukan melalui media internet. Hal ini tentu dikarenakan adanya jarak yang memisahkan antara masyarakat di belahan dunia yang satu dengan yang lainnya. Tentu media ini sangat membantu. Melalui media internet, setiap orang bisa saling mengapresiasi karya orang lain. Tanpa harus bertemu secara langsung. Inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah e-Sastra.

Di negara tetangga, Malaysia, keeksisan e-Sastra sudah begitu tinggi. Bahkan sudah memasuki lembaga pendidikan. E-Sastra sudah menjadi salah satu mata kuliah ataupun mata pelajaran di Malaysia. Sistem sastra online ini dipelopori oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, seorang sastrawan Malaysia yang sangat memperhatikan dunia e-Sastra. Bahkan banyak uang yang telah dikeluarkan untuk mengurus web e-Sastra. Menurut Prof. Irwan—begitu beliau biasa disapa—e-Sastra akan lebih menguntungkan daripada sastra hardcopy, yang sering menghasilkan kerugian, terutama dalam finansial. Karena sastra hardcopy, seperti buku, majalah, dll., kurang digemari. Namun, bagaimana e-Sastra di Indonesia?

Di Indonesia sendiri, sudah membludak grup-grup kepenulisan sastra online. Namun, hal ini tidak terlepas dari yang namanya bisnis. Banyak orang yang kurang bertanggungjawab, sehingga memanfaatkan sastra online di Indonesia sebagai media penipuan. Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah perusahaan (S) yang mengadakan sebuah lomba menulis puisi berhadiah 1 M. Namun, ternyata hal ini hanya sebuah trik penipuan. Untung saja, para penyair yang sempat terlibat dalam lomba ini, segera mencium bau penipuan itu.

Selain banyaknya penipuan, sastra online di Indonesia sering digunakan untuk pencurian karya. Atau sering kita menyebutnya dengan plagiarisme. Benar saja, dengan adanya internet, kita bebas mengambil apa pun yang ada di dalamnya. Karena tidak ada aturan tentang hal itu. Meski ada UU yang melindungi karya seseorang, tapi kalau karya itu online, apa bisa dilacak? Mungkin bisa, tapi kalau karya itu adalah karya orang baru, belum terkenal di ranah sastra, belum pernah dibaca orang lain, apa kita punya bukti untuk melindungi karya kita?

Beberapa hal inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia phobia terhadap e-Sastra. Padahal, Negara-negara lain sudah menjadikan e-Sastra sebagai bidang baru dalam ranah sastra. Lalu, apa Negara kita akan terus tertinggal? Bagaimana peran pemerintah terhadap hal ini? Apa sastra sudah masuk dalam deretan program kerja Negara Indonesia? Sudahlah!

Jogja, November 2014

POHON TUMBANG DI AREA FBS


Kreativa Online - Hujan berkali-kali turun. Hujan kali ini merupakan yang kesekian kalinya yang mengguyur kampus FBS. Rabu kemarin (12/11) hujan turun deras pada sore hari hingga menjelang malam. Helm mahasiswa yang digantung di motornya masing-masing di tempat parkir di area C 13 mau tidak mau kuyup dengan air.

Hari ini Kamis (13/11) hujan kembali turun pada pukul 11.13 Wib. hingga sore pukul 15.12 –an mulai mereda. Akibat minimnya fasilitas parkir di FBS motor dan sepeda mahasiswa menjadi korban hujan yang datang tidak diduga. Saat ini parkir motor dan sepeda di FBS ada di empat tempat.

Pertama, tempat parkir di depan Pusat Kegiatan Mahasiswa. Kedua, tempat parkir tak beratap di area belakang Pusat Layanan Akademik. Ketiga tempat parkir mahasiswa di samping Gedung Kuliah I FBS. Keempat bertempat di area  C 13 dengan keadaan tempat tak beratap pula.Di waktu yang sama saat hujan turun hari ini, sebuah pohon tumbang di dekat menara FBS. Lokasi sebelah timur Laboratorium Karawitan seberang jalan. Pohon tersebut tumbang diperkirakan saat hujan turun dengan derasnya. Korban saat itu tidak ada karena mahasiswa berada di ruang kelas. 

Sampai sore ini, belum ada petugas mengevakuasi pohon tersebut yang hampir menutupi jalan antara FBS dan Laboratorium FMIPA. Pagar besi karena besarnya pohon tersebut rusak parah. Pohon tersebut diindikasikan karena umurnya yang sudah tua. Setelah dilihat lebih dekat oleh redaksi Kreativa pohon tersebut tercerabut dari akarnya. (Agi)

Sabtu, 08 November 2014

KETIKA DUNIA MENJADI HITAM PUTIH



  • Judul                : The Giver
  • Genre               :  drama, fantasi, dan fiksi ilmiah
  • Produksi           : The Weinstein company
  • Sutradara          : Philip Noyce
  • Produser           : Jeff Bridges, Nicky Silver
  • Penulis naskah   : Michael Mitnick, Vadim Perelman
  • Pemain             : Jeff Bridges, Meryl Streep, Brenton Thwaites, Katie Holmes, Taylor Swift,Alexander Skarsgad, dan Odeya Rush   
                  
Sering kita merasa hidup ini penuh kebobrokan, dan memuakkan. Hanya diwarnai oleh orang-orang yang memperebutkan kekuasaan dan kekayaan. Sering sekali timbul pikiran untuk melenyapkan segala ketidaksesuaian yang ada. Namun, pernahkah kalian berpikir saat semua hal-hal buruk itu hilang dan yang ada hanya hal-hal baik, kesetaraan, dan keselaran. Dapatkah dunia ini disebut sempurna?


The Giver adalah sebuah film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul sama karya Lois Lowry, bercerita tentang Jonas yang mendapati dirinya sebagai penerima memori di sebuah negeri di mana kenangan dan emosi ditiadakan. Sejak penobatannya sebagai “Penerima Memori” inilah, dia mulai merasakan betapa dunianya begitu tidak berwarna, hanya diisi oleh aturan-aturan yang mengekang. Dia mulai memahami bahwa dunia memiliki sisi gelap yang terkadang menyakitkan tapi justru hal itu yang membuatnya seimbang.


Philip Noyce selaku sutradara mampu menghadirkan suramnya dunia Jonas sebelum menjadi “Penerima Memori” dengan menampilkan efek hitam putih diawal film, lalu berangsur-angsur berwarna setelah Jonas menerima berbagai memori. Terdengar ganjal saat tiba-tiba Jonas mampu mengatakan bahwa warna apel yang dia pegang adalah merah. Bagaimana tokoh Jonas mampu menyebutkan warna apa yang dia lihat padahal sebelumnya dia belum pernah mempelajari hal tersebut di kehidupannya?


Penceritaan hubungan cinta antara Jonas dan Fiona yang merupakan temannya sejak kecil yang terkesan terburu-buru juga menjadi kelemahan dari film ini. Banyak penonton yang sebelumnya telah membaca versi buku dari film ini kecewa terhadap kisah cinta Jonas yang ada di versi filmnya. Bagaimana tokoh Jonas bisa mengerti kalau itu cinta sedang dia sendiri masih belajar tentang berbagai macam emosi yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Saya sendiri yang belum membaca novelnyapun merasa jika kisah cinta Jonas terkesan hanya menjadi bumbu cerita, seperti layaknya film-film hollywood yang lain.


Terlepas dari hal-hal di atas film ini cukup menghibur dengan efek futuristik yang ditampilkan. Lewat penggambaran memori-memori yang ditangkap oleh Jonas yang ada disepanjang film, kita diajak untuk sejenak merenung tentang keberagaman yang ada di bumi dan bagaimana menyikapinya. Film ini telah beredar di bioskop sejak 15 Agustus 2014 (Amerika serikat). Bagi kalian penyuka film fantasi bersemi fiksi ilmiah seperti Divergent dan Hunger Games, mungkin film ini patut anda tonton karena tema besar yang diambil hampir mirip. Hadirnya penyanyi country terkenal Taylor Swift juga menjadi poin tersendiri bagi film ini.


“Kehilangan, dan kesakitan, musik, kegembiraan segalanya terasa mustahil. Itulah perasaan indah akan cinta.” The Giver


Selamat menonton!



(Yumna)


Jumat, 07 November 2014

MUSIM HUJAN KAJIAN DRAMA


Di depan gedung rektorat, di bawah menara, kelompok Teater Arcana melakukan olah napas sebelum latihan dimulai. 

Kreativa Online - Teriakan dari sekelompok mahasiswa menggema di Fakultas Bahasa dan Seni, sedangkan sebagian lainnya tampak sibuk berdiskusi. Kira-kira itulah yang terlihat di Fakultas Bahasa dan Seni pada beberapa bulan terakhir.



Sekelompok mahasiswa semester 5 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia baik program studi PBSI maupun BSI sibuk berlatih untuk pementasan teater pada Kamis, 06 Nopember 2014. Terdapat lima kelompok teater yang akan melakukan pementasan di antaranya Teater Bahtera dari PBSI dan Teater Arcana dari BSI.



Pementasan teater yang merupakan praktik dari mata kuliah Kajian Drama ini dilaksanakan mulai tanggal 1 hingga 23 Desember. Untuk pementasan ini banyak hal yang harus disiapkan oleh setiap kelompok teater dari mulai aktor, artistik, produksi, humas, dan sponsorship.



Setiap kelompok memiliki konsep pementasan yang berbeda, seperti pada Teater Bahtera yang memilih lokasi outdoor. “Teatrikalnya akan dipentaskan pada  1 Desember  2014 di taman c13...outdoor,” Ujar Herdiansyah Yoga P, Asisten Sutradara Teater Bahtera. Sedangkan Teater Arcana lebih memilih lokasi pementasan  indoor  yaitu di Stage Tari Tedjokusumo. Waktu pementasan yang bertepatan pada musim penghujan menjadi kekhawatiran bagi kelompok yang menggunakan konsep outdoor dalam pementasannya.



Jadwal latihan dari masing-masing kelompok teater juga berbeda. Biasanya dari 3 hingga 5 kali latihan sesuai kesepakatan masing-masing kelompok. Menurut Hesti Pratiwi, Pimpinan Produksi  Teater Arcana, hambatan yang dihadapi saat latihan yaitu menjaga mood anggota agar selalu siap dalam bekerja  sehingga pementasan dapat berjalan dengan lancar. Selain itu fisik anggota yang kelelahan akibat latihan berdampak pada kuliah lainnya yang keteteran.



Hal ini membuat sebagian mahasiswa berpendapat bahwa pementasan drama lebih baik tidak diadakan. “Kalau aku sih setuju kalau dihapusin, soalnya program studi kami BSI itu hanya sebatas kajian. Apalagi yang pendidikan,  toh besok juga jadi guru,” kata Hesti, mahasiswa BSI.



Namun hal berbeda diungkapkan oleh Yoga, mahasiswa PBSI. “Kalau saya sih kurang setuju karena mata kuliah drama ini satu-satunya mata kuliah yang mengharuskan praktek dari jurusan PBSI dan BSI. Rugi adik kelas kalau selama 4 tahun di sini tidak merasakan kajian drama. Pada kajian drama kan akan muncul berbagai pikiran, mengenal berbagai tipe orang serta mengakrabkan diri.”



Terlepas dari hal tersebut setiap kelompok teater tersebut sama-sama berharap agar pementasan drama mereka dapat berjalan lancar serta pihak fakultas memberikan tempat untuk mewadahi teater-teater tersebut agar tidak hanya ada ketika kajian drama saja dan menghilang setelahnya. (G/R)

Minggu, 02 November 2014

KELAS MENULIS BARENG AGUS NOOR

Salah satu anggota sedang menceritakan gagasan yang didapatkannya dari tiga kata pilihan peserta yang lain.
Kreativa Online - Akademi Berbagi (Akber) Jogja pada Minggu (2/11) siang yang panas bertempat di Yogyatorium Dagadu. Akber pada sesi kelas menulis mendatangkan cerpenis Agus Noor sebagai pemateri.

Acara ini gratis diikuti oleh siapapun. Tidak terbatas usia dan pendidikan. Sebagaimana yang telah disiarkan melalui twitter @akberjogja peserta hanya mention dan sudah terdaftar. Hari itu peserta yang hadir kebanyakan dari kalangan mahasiswa, di antaranya dari Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Uin Suka dan Univesitas Islam Indonesia.

Akber awalnya merupakan Akademi Berbagai Jakarta. Kemudian pada tahun 2010 berdiri Akademi Berbagi untuk Yogyakarta. Beberapa agenda Akber di antaranya pada Sabtu (12/7) yang lalu bekerja sama dengan Young On Top Yogyakarta mengadakan kelas yang bertempat di  Edu Hostel Jogja. Kelas tersebut berjudul “Keliling Dunia dengan Beasiswa” dan guru kelas yaitu pak I Made Andi Arsana.

Akber Jogja pekan berikutnya jatuh pada 6 November 2014. Pemateri yaitu Widyarto Adi di Foodpark UGM. Tema selanjutnya berbeda dengan tema sebelumnya. (Agi)

Sabtu, 01 November 2014

“MENULIS TIDA ADA BEDANYA DENGAN BERMAIN”


Berikut ini adalah terjemahan bebas atas penggalan sejumlah wawancara yang sudah diterbitkan di The  Paris Review:

Orhan Pamuk lahir di Istanbul pada tahun 1952. Hingga kini ia menetap di kota tersebut. Ia lahir di sebuah keluarga kaya yang mengurusi pembangunan jalan raya di periode awal republik Turki. Pamuk bersekolah di Robert College, sebuah sekolah elit dengan gaya pendidikan barat yang sekuler. Di masa mudanya ia begitu tertarik pada seni rupa. Namun setelah mendaftarkan diri di universitas untuk bidang studi arsitektur ia memutuskan untuk menjadi penulis. Saat ini ia adalah penulis Turki yang dibaca secara luas.

Novel pertamanya, Cevdet bey and His Sons, diterbitkan pada tahun 1982. Setelah itu ia menerbitkan The Silent House (1983), The white Castle (1985/1991 dalam terjemahan bahasa Inggris), The Black Book (1990/1994) dan The New Life (1994/1997). Pada tahun 2003 Pamuk memperoleh penghargaan sastra IMPAC Dublin  atas novelnya My Name is Red (1998/2001). Novel itu bercerita tentang misteri pembunuhan yang berlatar di Istanbul pada abad ke enam belas. Misteri pembunuhan ini diceritakan dari sudut pandang yang beragam. Tema utama yang dieksplorasi oleh Pamuk dalam setiap fiksinya adalah kebimbangan identitas sebuah negeri yang terombang ambing antara Timur dan Barat, persaingan antar saudara, eksistensi ganda, nilai keindahan dan keaslian, dan kecemasan akan pengaruh budaya. Snow (2002/2004), menyoroti radikalisme  agama dan politik, novel ini juga merupakan novel pertamanya yang mengetengahkan isu ekstremisme politik Turki kontemporer. Buku ini menjadikan namanya dikenal secara meluas meskipun menuai pro dan kontra di Turki. Buku terbarunya, Istanbul; Memories and The City (2003/2005), adalah potret ganda dirinyapotret masa kanak dan masa muda—dan potret mengenai kota asalnya, tempat ia menetap dan berkarya.

Tempat Menulis


Menurutku harus ada pemisahan antara tempat di mana kamu tidur dan tempat di mana kamu menulis. Segala hal yang berkaitan dengan ritual kehidupan sehari-hari dapat mematahkan imajinasiku. tetek bengek keseharian membunuh iblis dalam diriku. Hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, dan rutinitas sehari-hari bisa menyingkirkan "dunia lain"-ku, dunia di mana imajinasi mestinya bekerja perlahan-lahan akan lenyap. Sebab itulah, selama bertahun-tahun, aku selalu memiliki ruang kerja, atau sebuah ruang kecil di luar rumah, di sanalah aku menulis karya-karyaku. Aku selalu memiliki apartemen yang berbeda. Satu untuk menulis dan satu untuk aktivitas lainnya.

Namun pernah suatu ketika aku menetap selama setengah semester  di Amerika Serikat, saat itu aku menemani istriku (saat ini kami sudah bercerai) yang tengah menyelesaikan gelar Ph.D nya di Universitas Columbia. Kami tinggal di apartemen khusus mahasiswa yang sudah berkeluarga. Apartemen itu tidak memiliki ruang lebih, sehingga aku harus tidur dan menulis di tempat yang sama. Ini membuatku gelisah. Pada pagi hari aku pamit kepada istriku layaknya orang yang hendak berangkat kerja. Aku meninggalkan apartemen, mengelilingi beberapa blok kemudian kembali ke apartemenku seperti seorang yang baru saja tiba di tempat kerjanya.

Sepuluh tahun yang lalu aku tinggal di sebuah apartemen yang menghadap ke selat Bosphorus lengkap dengan pemandangan kota tuanya, mungkin, ini adalah salah satu pemandangan terbaik di Istanbul jarak antara tempat tinggalku dengan apartemen khusus menulis itu hanya sekitar 25 menit dengan berjalan kaki. Ruangan itu sarat dengan buku dan meja kerjaku menghadap ke arah pemandangan. Di sanalah setiap hari aku menghabiskan waktu sekitar 10 jam.

Menikmati Proses Menulis


Rata-rata aku bekerja selama 10 jam dalam satu hari. Aku adalah seorang pekerja keras. Aku begitu menikmati pekerjaanku. Orang bilang aku ambisius, mungkin ada benarnya juga. namun aku memang benar-benar mencintai pekerjaanku. Aku nyaman duduk berlama-lama di meja kerjaku seperti anak kecil yang asyik dengan mainannya. memang ini adalah pekerjaan, namun ini adalah pekerjaan yang menyenangkan, lagi pula bagiku menulis tidak ada bedanya dengan bermain.

Penulis-Penulis yang Mempengaruhi Pamuk


Tolstoy, Dostoyevsky, Stendhal, Thomas Mann, merekalah yang kuanggap penulis terbesar saat aku mulai  menggeluti dunia menulis. Sedang pahlawan idolaku adalah Virginia Woolf dan Faulkner. Kini aku menambahkan Proust dan Nabokov dalam daftar tersebut.

Buku yang Sangat Berpengaruh


Saat aku berusai sekitar 21 atau 22 novel The Sound and The Fury, karya Faulkner memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diriku. Aku membeli edisi  penerbit Penguin. Novel itu sangat sukar kupahami, apalagi bahasa Inggrisku buruk. Namun kemudian aku mendapati novel tersebut dalam edisi terjemahan bahasa Turki yang sangat bagus. Maka aku membacanya secara bersamaan. Aku membaca setengah paragraf dalam bahasa Inggris kemudian setengah paragraf dalam terjemahan bahasa Turki. Buku itu begitu membekas bagiku.

Pengalaman Pertama Menerbitkan Buku


Di usia dua puluhan aku tidak memiliki teman dalam kancah kesusastraan. Aku tidak terlibat dalam kelompok sastra mana pun di Istanbul. Satu-satunya agar karya pertamaku bisa diterbitkan adalah dengan cara mengikuti sayembara sastra khusus naskah yang belum pernah diterbitkan. Aku mengikuti sebuah sayembara sastra dan aku keluar sebagai juara. Sebagai pemenang karyaku akan diterbitkan oleh penerbit ternama. Namun saat itu keadaan ekonomi Turki terpuruk. Pihak penerbit mengontrak novel pertamaku namun mereka menunda penerbitannya.

Tentang Membicarakan Novel yang Sedang dalam Proses Pengerjaan


Aku tidak pernah menceritakan novel yang tengah kukerjakan. Dalam acara formal, ketika seseorang bertanya tentang apa yang tengah aku tulis. Aku memiliki jawaban andalan: Novel yang sedang kutulis mengambil latar Turki kontemporer”.

Realisme Sosialis vs. Eskperimentalis


Para pengarang yang merasa memiliki tanggung jawab sosial, para pengarang yang beranggapan bahwa sastra harus mengabdi kepada moralitas dan politik, bagiku mereka terlalu datar, tidak eksperimental. Pengarang-pengarang yang berpandangan semacam ini biasanya tinggal di negara berkembang, mereka menyia-nyiakan bakat yang mereka punya hanya untuk melayani tanah air mereka. Aku tidak ingin menjadi pengarang semacam itu. Ini disebabkan oleh bacaanku sewaktu muda. Aku menikmati karya-karya Faulkner, Woolf, Proust—aku tidak pernah berharap menjadi seorang penulis realisme sosialis seperti Steinbeck dan Gorky. Karya sastra yang dihasilkan pada dekade 60 dan 70 sudah ketinggalan zaman. Aku hadir sebagai generasi baru.

Novelis Adalah ...


Seorang Novelis sejatinya adalah seorang yang menempuh jarak dengan penuh kesabaran, begitu sabar, begitu perlahan, seperti semut. Seorang novelis memberikan kesan mendalam kepada pembaca bukan dengan visi romantik bukan pula dengan visi-visi gaib, ia menanamkan kesan mendalam itu dengan kesabarannya.

Teknis Menulis Novel ala Pamuk


Membagi sebuah novel ke dalam beberapa bab sangat penting bagiku. Ketika tengah menggarap sebuah novel dan aku mengetahui garis cerita secara keseluruhan, aku akan membaginya ke dalam beberapa bab, lalu aku memikirkan detail-detail yang harus aku kerjakan dalam tiap bab tersebut. Aku tidak selalu menulis novelku secara runut. Ketika aku buntu, ketika tak ada lagi sesuatu yang bisa kutuliskan, aku akan menulis semauku, aku menuliskan apa saja yang terlintas dalam benakku. Adakalanya aku menulis novel secara berurutan dari bab satu hingga bab lima dan ketika aku mulai jenuh aku langsung melompat ke bab lima belas.

Keluarga


Ibuku khawatir dengan keputusanku untuk menjadi penulis. Namun ayahku mentolerir keputusanku. Sebab pada masa mudanya ia bercita-cita menjadi seorang penyair, ia menerjemahkan puisi-puisi Valery ke bahasa Turki, namun ia menanggalkan cita-citanya karena diejek oleh kawan-kawannya, orang-orang kelas menengah ke atas.
Keluargaku tidak menerima keputusanku menjadi novelis, namun menerima keputusanku menjadi seorang pelukis. sebab mereka berpikir bahwa aku tidak mungkin menjadi pelukis penuh waktu. Sebagian besar keluargaku adalah insinyur. Kakekku adalah insinyur, ia kaya  karena membangun jalan raya. Paman dan ayahku tidak seberuntung kakekku, namun mereka pun mengenyam pendidikan di jurusan Teknik, di Universitas Teknik Istanbul. Mereka pun berharap aku kuliah di jurusan teknik, dan aku mengiyakan keinginan mereka. Namun semenjak aku menunjukkan bakat seniku, mereka berpikir bahwa aku lebih cocok untuk menjadi arsitek. Ini menjadi solusi yang memuaskan semua pihak. Kemudian aku kuliah di jurusan arsitektur, namun dipertengahan kuliah arsitek aku berhenti melukis dan memutuskan untuk menulis novel.

*Diterjemahkan oleh Rozi Kembara, lahir di Tasikmalaya 27 Juni 1990. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS angkatan 2009.

Diambil dari: Buletin Mimesis Susastra