Label

Selasa, 02 Juli 2013

KUNJUNGAN MEDIA KE SKH KEDAULATAN RAKYAT: RINGKAS NAMUN MEMBEKAS

foto: bem fbs

Matahari sudah tinggi ketika rombongan LPPM Kreativa dan sub-divisi Media Badan Eksekutif Mahasiswa FBS UNY tiba di kantor redaksi SKH Kedaulatan Rakyat. Kami mempunyai tujuan dalam rangka kunjungan media hari itu, Selasa (2/6).

Di ruang meeting yang tak terlalu luas namun nyaman, peserta kunjungan menggali ilmu melalui pengenalan tentang Kedaulatan Rakyat. Menurut sejarah, koran ini pertama kali terbit 27 September 1945 tersebut. Dengan cukup antusias, satu per satu anggota Kreativa dan media BEM mengajukan pertanyaan demi memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Suci, salah seorang staff Redaksi Kedaulatan Rakyat yang menemui rombongan dalam kunjungan tersebut. Mewakili SKH Kedaulatan Rakyat, Suci menjelaskan bagaimana proses kerja redaksi setiap harinya. Dimulai dari meeting di pagi hari, rutinitas lalu dilanjutkan dengan hunting berita di lapangan, writing, correcting, lay outing, platting, filming dan printing. “Kalau pagi agak siang begini ya sepi, tidak banyak kegiatan di kantor karena wartawannya keluar semua cari berita,” ujarnya.

Wanita berambut panjang dan berpembawaan sigap ini juga menjelaskan tentang rubrik yang disediakan Kedaulatan Rakyat untuk menampung aspirasi mahasiswa seperti rubrik Swara Kampus, Budaya (puisi, esai dan cerpen), Opini,  dan lain-lain serta memaparkan prosedur pengiriman tulisan untuk rubrik-rubrik tersebut.

Semakin banyaknya media cetak yang beredar di pasaran saat ini tampaknya tidak terlalu membuat Kedaulatan Rakyat khawatir dalam soal persaingan. “Kami bersaing secara sehat dengan media lain, selain karena sudah memiliki pasar tersendiri, masing-masing media punya gaya tulisan yang berbeda dalam mengolah berita, serta adanya fanatik (penggemar) tiap media” jelas Suci.


Satu hal yang disayangkan, kunjungan ini hanya berlangsung singkat. Kreativa dan media Bem hanya diberi alokasi waktu sekitar 15 menit karena penuhnya jadwal agenda kegiatan kru Kedaulatan Rakyat pada hari itu. Meskipun demikian, peserta kunjungan mendapat banyak hal untuk dipelajari. [Yeni]

LAKU TOKOH CERITA PENDEK DI LUAR TEKS

Judul              : Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan
Penulis          : Eko Triono, Pinto Anugerah, Rachem Siyaeza, Lubis
Ghafura, Wayan Sunarta, Mugya S Santoesa, Rozi Kembara, Niduparas Erlang, Ricardo Marbun
Penerbit        : Kreativa Book Edition (KBE)
Cetakan         : 1 November 2012
Tebal              : 106
ISBN               : 978-979-26-1959-1

Di luar teks, tokoh dalam cerita pendek tidak mempunyai masa lalu, masa depan dan kontinuitas hidup. Khalayak sastra pun sepakat kalau karya sastra seperti halnya cerita pendek acuannya fiksi dan imajinasi. Inilah kehebatannya sebuah cerita pendek.

Bagaimana dengan cerita sejarah, cerita epik atau cerita yang mengadaptasi dari dunia nyata, tidak mempunyai masa depan, masa lalu dan kontinuitas hidupkah seorang tokoh di luar teks?

Bagaimana kalau tokoh dalam cerita pendek Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan melompat dari dalam teks dan berada di tengah-tengah masyarakat? Cerita tentang seorang pelukis bernama Tuan Mensen yang hendak merayakan pernikahannya dengan gadis paling cantik—yang orang-orang tengah iri dan sinis melihat keberhasilan Tuan Mensen itu, yang gadis itu selalu dibonceng dengan sepeda berkeranjang jalan-jalan keliling kota, jalan-jalan keliling hutan kota, memasuki jalan-jalan kecil, melintasi jembatan, yang orang-orang ketika melihat berkata, “Apa kau akan menjual kekasihmu itu Tuan Mensen?” dan gadisnya akan berujar kepada Tuan Mensen, “Husy! Keburukan tak harus dilawan dengan begitu, nanti bisa menabrak kita, lho.” (hal.17)

Bagaimana kelanjutan cerita pendek yang dikarang oleh Eko Triono ini? Oleh pembaca akan didapatkan cerita pendek ini dalam bentuk cerita yang absurd. Pembaca akan dituntun ke dalam isi ceritanya yang penuh labirin, yang ujungnya akan disambut lampu-lampu terang benderang disertai hujan kembang api.

Cerita pendek lainnya Emma Haven karya Pinto Anugerah. Cerita tentang Perempuan Padang bernama Siti Kalaya yang dilamar oleh van Shrick seorang Belanda totok. Laya, panggilan untuk Siti Kalaya, dilematis dengan hadirnya Ipan Sarik (panggilan Laya untuk van Shrick). Tanah Padangpanjang di sebuah kampung pitalah, dulu menjadi tempat tinggal ibunya dan Mak Sudi yang kini sudah beralih ke tangan Pemerintah Hindia dan mereka terusir oleh Belanda totok. (hal.23)

Latar tempat dalam Emma Haven yang menggunakan masa kolonial Belanda di Padang yaitu di tahun 1938. Cerita pendek ini seolah-olah ingin menyampaikan suara-suara masa lampau yang tersembunyi. Sebuah suara yang berasal dari sapuan angin ke layar kapal Galias.

Cerita pendek dalam antologi Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan menawarkan cerita-cerita menarik. Cerita pendek dalam antologi ini pernah dimuat di Jurnal Kreativa milik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dari tahun 2008-2012. Sembilan cerita pendek dalam buku ini hasil pilihan dari puluhan cerita pendek lainnya yang pernah dimuat di jurnal yang sama (hal.8). Termasuk pula cerita-cerita dalam buku ini yang selamat dari hempasan media cetak yang rentan membatasi cerita-cerita yang melanggar konvensi humanisme klasik cerita pendek Indonesia.

Jika saya ditanya bagaimana cara menulis cerita pendek yang kaya dengan teknis, unik dan aneh; Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan dan cerita-cerita lainnya inilah jawabannya.

Di antara cerita pendek yang berkehendak pada nuansa lokalitas, budaya atau religius, cerita-cerita dalam Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan menentukan takdirnya sendiri; tidak berpihak pada siapa pun dan sangat subjektif. Bagaimana kita tahu kalau seorang seniman itu harus mempunyai asuransi kejiwaan? Cerita ini dikisahkan oleh Wayan Sunarta dalam Asuransi untuk Pelukis (hal.51). Seorang tokoh utama aku-an, berposisi sebagai tukang agen asuransi di sebuah perusahaan. Tokoh utama kedua adalah temannya sendiri sejak SMA—kini dua-duanya sudah punya keluarga—kecuali tokoh kedua. Tokoh utama kedua kaya raya dengan melukisnya. Tokoh utama pertama tidak kaya alias pas-pasan sebagai seorang penulis. Maka tokoh utama pertama yang bekerja sebagai agen asuransi menawarkannya kepada tokoh utama kedua yaitu asuransi kejiwaan.


Sebenarnya, bisa saja fakta sosial diusung ke dalam fakta cerita pendek dengan berbagai sudut pandang yang sama. Cerita pendek jenis ini merupakan cerminan dari sebuah kondisi sosial masyarakat. Berbeda dengan cerita pendek yang ditulis oleh sembilan cerpenis muda Indonesia dalam antologi Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan. Di luar teks, tokoh dalam cerita pendek memang tidak mempunyai kontinuitas hidup. Dan cerita pendek dalam buku inilah salah satunya. [*]

Kamis, 20 Juni 2013

MENJADI “SOSOK” MAHASISWA

Indah Afiani

Sosok adalah bentuk rupa seseorang dalam menciptakan karakter dalam tokoh masyarakat. Karakter tersebut melahirkan pandangan masyarakat terhadap dirinya atau kebanyakan orang. Pemuda boleh jadi wujud representasi puncak spirit seseorang dalam mengarungi bahtera hidup. Pemuda adalah tulang punggung dalam mencapai tujuan kolektif suatu bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea empat.

Jumat, 31 Mei 2013

PAMERAN SENI KERAJINAN ETNIS NUSANTARA 2013


Beberapa kendaraan berkelit-kelindan sepanjang jalan di depan Gedung Kuliah 4 FBS. Jum’at (31/5) di GK 4 tersebut sekitar pukul 13.24 satu persatu mahasiswa menyemut memasuki ruangan. Berjajarlah puluhan karya dari peserta Lomba dan Pameran Seni Kerajinan Etnik Nusantara 2013 di hadapan para pengunjung.

Pameran yang bertempat di Galery Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS ini dihadiri oleh salah satu peserta dengan judul karya Beatiful Word karya Ramadhani Kurniawan. Karya kreatif ini berukuran 15 x 80 x t (7) cm dengan menggunakan media litit kawat besi dan cat besi. Karya paduan warna putih di atas hitam ini tampil sempurna. Oleh Kurniawan, di dalam lilitan kawat terdapat gambar seseorang yang sedang memancing.

Rabu, 29 Mei 2013

EVALUASI KURIKULUM 2013

Raudatul Hasanah

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 membahas tentang  pengertian kurikulum yaitu “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan, pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaran kegiatan  pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan”. Namun pertanyaan sekarang, apakah pengertian kurikulum tersebut sesuai dengan perubahan kurikulum kita yang terus menurus berubah?

Dilihat dari  perubahan kurikulum 2013 yang berbeda dari kurikulum sebelum-sebelumnya. Muncul pertanyaan , kenapa kurikulum harus diubah?

Selasa, 21 Mei 2013

AN EVENING, KEMBALIKAN KONSEP SEMULA

FBS –17 Mei. Langit yang mendung dan kilatan petir mungkin menjadi bagian dari tema acara “An Evening with Edsacoustic and friends” malam itu di Pendopo Tedjokusumo. Sebuah acara sajian musik acoustic yang mengambil tema unik yaitu “horror” berhasil di kemas apik oleh EDSart (divisi 4 EDSA) dengan sederhana dan hangat, apalagi para penonton mendapatkan coffee break secara gratis.

Jam 7 lebih sedikit para penonton sudah mulai memadati pendopo. Tak hanya mahasiswa dari jurusan Bahasa Inggris saja, beberapa juga ada dari jurusan lain. Mereka ikut membaur bercengkerama, menikmati musik bersama-sama.

Sajian musik ini tidak hanya menampilkan Edsacoustic generations atau edsa coutic dari angkatan 2003-2011 tetapi juga ada special perform dari beberapa HIMA yang ada di FBS ini. Tak ketinggalan ada juga Hima Perancis yang dengan bangga menyanyikan lagu bahasanya.


Tiga tahun terakhir acara ini lari dari konsep awal yaitu reunian. Acara ini malah diisi dengan band-band yang tidak hangat. Saya dan kawan-kawan panitia ingin sekali mengembalikan konsep itu, akhirnya tercetuslah sebuah an evening – welcome back to the evening yang mengajak para penonton menikmati musik, berkumpul bersama sambil menikmati coffee,”  ujar Ulik, ketua panitia acara ini. (ghina)

Kamis, 16 Mei 2013

MENDETEKSI SUPREMASI HUKUM INDONESIA

Oleh Eka Rusdiana

Indonesia dikenal sebagai negara hukum, sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia, sebutan “supremasi hukum” menjadi kata yang sering diucapkan dan didengar.

Istilah ini akan menjadi objek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya untuk dibahas. Hal ini disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. Hukum sebagai aturan, norma, dan kaidah akan selalu mempunyai posisi khas, ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum.

DISKUSI “KEGALAUAN PENDIDIKAN NASIONAL” KEPEDULIAN ORMAWA TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA

Kamis (02/05)  bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), aliansi ormawa FBS mengadakan diskusi bertajuk “Kegalauan Pendidikan Nasional.” Diskusi tersebut diadakan di Pendopo Tedjokusumo FBS UNY. Diskusi ini menghadirkan jajaran dekanat yang meliputi Prof. Dr. Zamzani (Dekan FBS UNY), Dr. Widyastuti Purbani (WD I FBS UNY), Sudarmaji, M. Pd. (WD II FBS UNY), serta Dr. Kun Setyaning Astuti, M. Pd (WD III FBS UNY) sebagai pembicara.

Kebetulan acara Diskusi Hardiknas bertepatan dengan salah satu acara BEM FBS yang letaknya berdekatan. Ketika dikonfirmasi mengapa bersamaan, Septianto Hutama (Tama) selaku ketua panitia mengatakan bahwa banyak teman-teman yang mempertanyakan pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, bertepatan dengan Hardiknas diadakan diskusi mengenai pendidikan di Indonesia.

Jumat, 10 Mei 2013

PMI DAN PENGABDIAN BANGSA

Oleh: Erin Cahyaning*
Tanggal 8 Mei kemarin merupakan hari peringatan untuk mengenang Bapak Palang Merah Dunia yang sekaligus menggenapkan usia Palang Merah Internasional yang ke 150 tahun. Terlahir dengan nama lengkap Jean Henry Dunant, seorang pengusaha yang berhasil menggagas sebuah organisasi netral dalam bidang kemanusiaan.

Hal ini  berawal dari rasa empatinya terhadap para korban perang di Solferino Italia di tahun 1859. Pengalaman Dunant yang kemudian mendorongnya untuk  membentuk organisasi yang mengurusi korban perang dan bencana. Menilik dari hal tersebut bagaimanakah peran dan sepak terjang Palang Merah Indonesia sendiri? Kasus apakah yang menjadi bukti yang dapat membuktikan kualitas organisasi nonprofit tersebut?

Minggu, 05 Mei 2013

SAUDARA

Oleh Mawaidi*

Saudara adalah saya, nabi, presiden, Anda dan sastrawan. Saudara bisa berbuat baik kepada saya, nabi, presiden, Anda sendiri dan sastrawan. Saudara harus menyapa saya di saat bertemu, mengingat nabi saat sendiri, dengan presiden melambaikan tangan saat berjumpa, boleh pada diri sendiri berbangga, dan berkumpul bersama sastrawan. Tidak boleh sekali-kali berbuat jahat pada saya, apalagi nabi, apalagi presiden, apalagi diri Anda sendiri dan bahkan sastrawan di waktu-waktu jamnya mengarang.

Saudara tidak ada hubungannya dengan Tuhan.  Tuhan adalah Tuhan yang wajib diimani bagi yang mengimaninya. Maka gempa dan longsor di Ya’an, Sichuan, China itu adalah cobaan bagi masyarakat Lushan. Posisi Saudara pada saat itu dibutuhkan; uluran tangan beserta doa kepada Tuhan. Dari kejadian ini, Saudara kemudian tidak hanya berpretensi untuk menolong saudara kandung, tiri dan sepupu.

Selasa, 30 April 2013

MACAPATAN, PROSESI MENJELANG DEKLARASI

Para mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah (PBD) tengah menembangkan macapat (doc. Adet)

Pendopo Tedjo tampak riuh dengan suara tembang-tembang Jawa. Sekelompok orang berkerumun terlihat apik dengan batik, suasana terasa sakral. Itulah gambaran acara Macapatan yang diadakan pada Selasa malam (30/4). Macapatan merupakan salah satu rangkaian prosesi deklarasi hari lahir FBS sekaligus sebagai malam perenungan. Hal ini dipaparkan oleh Muhamad Wahyu Hidayat, selaku ketua panitia pelaksanaan Macapatan. 
       “Ini sebenarnya rangkaian sekaligus menyongsong deklarasi hari lahir FBS. ini (macapatan –red) sudah ada agenda dari fakultas, jadi bukan proker HIMA. Tapi sebenarnya Macapatan adalah proker jurusan dan sudah ada pentas pada bulan Maret lalu dan ini diadakan lagi.”

Rabu, 24 April 2013

DIGITALISASI VS KONVENSIONAL


Oleh Erin Cahyaning

Era teknologi informasi secara langsung telah memberikan pengaruh terhadap perubahan moral dan budaya. Hal ini terbukti pada maraknya perilaku konsumtif masyarakat yang berimplikasi terhadap meningkatnya penggunaan gadget. Ini membuat budaya membaca buku kian merosot. Alat-alat informasi seperti handphone, tablet, laptop, dan lain sebagainya dijadikan alternatif untuk berkomunikasi sekaligus memperoleh beragam informasi global. Buku yang pada dasarnya merupakan bahan referensi utama, kini mulai kembang-kempis menghadapi gejolak zaman.  

MENELUSUR ALIRAN DANA PENGADAAN BUKU


Perpustakaan ibarat jantung bagi seorang manusia, sedangkan kumpulan pustaka adalah aliran darah yang mambuat jantung masih bisa berdetak. Demikianlah perpustakaan tanpa buku, dia akan menjadi suri. Perpustakaan ini terletak berdekatan dengan pintu masuk Gedung Kuliah 1 (GK 1). Di sinilah mahasiswa bertandang ketika mereka mencari referensi. Sekilas tak ada yang salah dengan perpustakaan FBS, namun berdasarkan pengakuan beberapa mahasiswa mereka lebih sering menjumpai koleksi skripsi yang berderet rapi di rak-rak lemari di bandingkan buku-buku teoretis yang dibutuhkan oleh mereka. Keluhan mahasiswa ini cukup beralasan, mengingat setiap tahun mahasiswa yang akan lulus dipungut dana pengadaan buku. Menurut data yang diperoleh dari Wildan alumni mahasiswa PBSI FBS UNY, setiap mahasiswa yang akan lulus diwajibkan membayar dana dengan rincian sebagai berikut: sumbangan buku FBS sebesar Rp20.000,-perpustakaan UPT Rp27.000, IKA Rp50.000, pelepasan Rp100.000, wisuda Rp400.000. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Amy, Kunti, serta Tiko.

Mengenai dana yang dibayarkan mahasiswa sebesar  Rp20.000,- untuk perpustakaan FBS ,Wakil Dekan I membenarkan hal tersebut. Namun, mengenai dana untuk perpustakaan UPT,  Dr. Widyastuti Purbani, M.A mengaku terkejut karena tidak mengetahui tentang dana ini “Loh, itu yang Rp27.000 apa, adanya Rp20.000. Saya malah kurang tahu, kalau UPT pusat juga (menarik dana dari mahasiswa –red).”

SENGKARUT KEBIJAKAN PERPUSTAKAAN FAKULTAS


Perpustakaan FBS sebagai jantung kultur intelektual mahasiswa, selama ini dinilai masih minim khasanah literer. Tak hanya itu, perpustakaan yang sedianya memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan referensi yang lebih detail mengenai bahasa dan seni, nyatanya tak memberikan bantuan yang sangat signifikan.

“Koleksi buku-bukunya minim, yang ada cuma koleksi skripsi dan jurnal itu juga cuma sedikit. Kalo perpus fakultas itu keadaannya kayak gini, kayaknya gak ada perpus fakultaspun gak papa deh” ujarAnez selaku mahasiswi PBSI UNY, Selasa (16/4).

Mengenai keluhan ini, Dr. Maman Suryaman, ketua jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) kemudian menanggapi “Sebenarnya program pengadaan dana buku itu baru ada saat dua tahun ini, yaitu tahun kemarin dan tahun ini  yang belum dilaksanakan karena dana belum cair, tapi jurusan telah mengimplementasikan. Mengenai koleksi buku yang masih tetap saja koleksi lama, Jurusan malah tidak pernah tahu mengenai hal adanya regenarasi buku-buku, justru mahasiswalah yang harusnya mengontrol dan monitoring oleh alumni  juga, apakah benar koleksinya masih koleksi lama, atau mungkin saja buku-bukunya masih dipinjam dan belum dikembalikan itu masih harus perlu dicek lagi” terangnya.

HUT BDS KE-11


Sabtu (6/4), Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman FBS atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bund der Deutsch Studenten (BDS) menyuguhkan satu acara puncak untuk memperingati Hari Ulang Tahun mereka yang ke-11. Sebelumnya BDS telah menyelenggarakan berbagai lomba. Acara ini sekaligus menjadi malam penganugerahan bagi para pemenang lomba. HUT BDS tahun ini mengusung tema Die Elfte Jahre Für eui Tor (11 tahun untuk sebuah gol) yang mempunyai makna 11 adalah identik dengan sepakbola dan gol merupakan kesuksesan dalam sebuah pertandingan (perjuangan). BDS-pun menambah kekuatan tema dengan mengenakan dresscode Jersey Jerman saat acara berlangsung. Acara yang dimulai pukul 19.00 di Laboratorium Karawitan (Labkar) ini merupakan acara tahunan sekaligus Proker BDS.

Acara menampilkan beberapa hiburan, di antaranya stand up comedy, penampilan Edsacoustic, HIMA PBD, Misbah, dan HIMASIK. Turut hadir pula Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman yaitu Ibu Lia Malia, M.Pd. serta Wakil Dekan III FBS, Dr. Kun Setyaning Astuti, M.Pd. Persembahan khusus dari BDS sekaligus menjadi puncak HUT BDS adalah kolaborasi antara 4 wadah kreatifitas dalam HIMA BDS yaitu teater (Regenbogen), grup musik (Käse), tari (Schmettering), dan vokal grup (Gesangsgruppe) , yaitu pertunjukkan drama musikal yang disadur dari beberapa cerita rakyat/dongeng, diantaranya Cinderella, Pinokio, Putri Salju, dan lain-lain dengan tema sepakbola seperti tema yang BDS angkat tahun ini.

SARASEHAN SENI DAN PUNCAK OPEN HOUSE UKM AL HUDA


Sabtu (13/4), Stage Tari Fakultas Bahasa dan Seni terlihat ramai. Di tempat itulah sarasehan seni dan puncak open house KM Al Huda diadakan. Acara tersebut sangat ramai dihadiri oleh penonton dan tamu undangan. Para tamu undangan juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam acara yang disenggelarakan oleh UKMF Al Huda ini.  Acara yang bertemakan “Islam Bicara Seni dan Budaya” ini turut dihadiri oleh Ibu Kun Setyaning Astuti selaku Wakil Dekan III FBS UNY.

Sarasehan dimulai dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia, M. Subhan. “Harapan saya semoga apa yang telah direncanakan dari awal dan tujuan Al Huda semakin sukses”, ungkap M. Subhan selaku ketua panitia acara tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua UKM Al Huda, Hasan Riyadi. Sarasehan ini dibuka resmi oleh Ibu Kun Setyaning Astuti selaku Wakil Dekan III FBS UNY.

Dalam sambutannya Ibu Kun menyampaikan “Dengan diadakannya acara sarasehan ini diharapkan bisa meningkatkan seni Islam yang akhir-akhir ini cenderung turun”. Beliau juga menambahkan harapannya “ Keluarga FBS diharapkan bisa meningkatkan seni dan budaya dalam Islam”. Acara bertambah meriah dengan didukung oleh penampilan dari HIMASIK (Himpunan Anak Seni Musik)  yang menunjukkan kesyahduannya melalui nyanyian religi yang berjudul Bersujud.

GELARAN STAND UP COMEDY UGM


Sabtu (13/4) 3500 penonton memadati Gedung Graha Shaba Pramana sejak pukul 19.00 WIB. Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke – 38, Program Diploma Sekolah Vokasi Ekonomika dan Bisnis bekerja sama dengan Arpro Buana Lestari Jogja menggelar Stand Up Comedy dengan tema “Battle of Republic”.

Stand up comedy menjadi acara yang sudah dipersiapkan setahun untuk merayakan Dies Natalis Vokasi ,’’ujar bapak Arya selaku penanggung jawab acara ini.

Acara dipandu Gareng Rakasiwi dan dibuka oleh Direktur Sekolah Vokasi, dilanjutkan dengan open mic dari beberapa staf pengajar di antaranya Wikan Sakarinto, pengajar dari Teknik Mesin SV UGM, Herman Legowo, dosen FEB UGM, serta Dekan Fakultas Biologi, Suwarno. Selain itu, juga ada Das Salirawati, dosen Teknik Kimia UNY yang berhasil mengocok perut penonton dan mendapat ribuan tepuk tangan. Beliau telah melalang buana di berbagai stasiun televisi swasta untuk open mic.

Biasanya kalau di kampus, saya dipanggil bu Das, kalau di acara stand up dipanggil Wati Salsabila dan fans-fans saya memanggil saya Daster”, ujar Wati Salsabila. Beliau sukses membuat penonton terpingkal-pingkal, karena materi yang beliau berikan masih fresh dan berhubungan dengan kebiasaan mahasiswa.

45 MENIT 3 ZONA GOA PINDUL


45 menit mengambang menelusuri sungai bawah tanah Goa Pindul, siapa yang tidak berminat? Atau jangan-jangan ada yang belum tahu apa dan di mana Goa Pindul? Ya, Goa Pindul adalah salah satu wisata air yang berada di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul bukanlah wisata air biasa. Hanya dengan tiga puluh ribu rupiah kita diajak menyelusuri keunikan sungai bawah tanah dan melihat keindahan stalaktit menggunakan ban karet. Pengelola desa menyebutnya dengan Cave Tubing Pindul. Mitos menyebutkan, bahwa nama Pindul diambil ketika anak Panembahan Senopati (pendiri kerajaan Mataram) ketika sedang di mandikan lalu pipinya kebendhul atau terbentur.

Dengan panjang 350 meter dan lebar 5 meter gua pindul memiliki 3 zona. Zona pertama adalah zona terang yaitu pintu masuk goa, lalu zona remang dan zona gelap yang berada di tengah-tengah goa. Goa pindul memiliki kedalaman air kurang lebih 5-12 meter dengan demikian para wisatawan wajib menggunakan baju pelampung dan membutuhkan pemandu yang benar-benar sudah mengerti seluk beluk Goa Pindul. Hebatnya, pemandu di sini bisa berenang tanpa ban di kedalaman 12 meter.

Zona gelap adalah paling menarik. Zona ini benar-benar gelap, tidak ada satu cahayapun yang mampu menerobos masuk. Di sinilah eksotisme Pindul terpapar. jika pengunjung diam, terdengarlah suara tetesan air dari stalaktit dan sesekali suara pemandu yang menjelaskan keindahan dan keunikan mitos-mitos stalaktit di dalam goa. Selain itu jika pemandu mengarahkan senternya ke langit-langit goa terlihatlah segerombolan kelelawar yang sedang tertidur dengan kepala mengarah ke bawah. Di sini pengunjung juga akan menemukan stalaktit Putting yang konon katanya jika ada pengunjung perempuan yang tanpa sengaja terkena tetesan air dari stalaktit ini bisa bikin cantik dan awet muda. Keluar dari zona ini pengunjung akan di hadang oleh stalaktit terbesar yang di sebut Soko Guru, butuh 5 orang untuk melingkari stalaktit ini loo.

HIMA BSI UNNES STUDI BANDING KE UNY


Sabtu (13/04), Jurusan Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Universitas Negeri Semarang  (UNNES) mengadakan studi banding dengan KMSI dan PBSI  di Cine Club FBS UNY. Kegiatan tersebut dimulai sekitar pukul 10.30, ketika beberapa lagu oleh Misbah (PBSI) menyambut tiga puluh perwakilan mahasiswa UNNES yang datang. Acara selanjutnya dibuka oleh MC, lalu sambutan dari Ahmad Wahyudin, M.Hum dan Prof.Dr.Suhardi selaku Kaprodi BSI UNY. Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing struktur pengurus atau divisi ormawa BSI UNNES, KMSI, dan PBSI. Setelah itu, mereka melakukan sharing tentang program kerja masing-masing jurusan.

“Kami sangat senang bisa mengunjungi Fakultas Bahasa dan Seni UNY, selain untuk studi banding program kerja ormawa, kami juga bisa menjalin silaturahmi sekaligus bertukar pendapat” kata Zaenudin, selaku ketua HIMA BSI UNNES periode 2013.

Setelah perkenalan, acara berlanjut ke acara inti yaitu diskusi panel yang dimoderatori oleh Mawaidi (mahasiswa jurusan BSI 2011), dangan pembicara Roni (Ketua HIMA PBSI 2013, Heri (Kepala suku KMSI 2013), dan Zaenudin (ketua HIMA BSI 2013 UNNES). Di sesi ini baik pihak KMSI, PBSI, maupun HIMA BSI masing-masing saling mensosialisasikan agenda program kerja selama satu tahun, mulai agenda rutin maupun event rutin per tahun yang sering diadakan.

PELANTIKAN HIMA DAN ORMAWA FBS


Kamis (4/4), Forum Organisasi Mahasiswa (FOM) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FBS UNY) menyelenggarakan acara tahunan mereka yaitu Pelantikan HIMA dan Ormawa FBS. Acara yang merupakan Proker BEM FBS 2013 ini berlangsung di Stage Tari FBS dan dihadiri oleh seluruh Ketua HIMA dan Ormawa di FBS beserta anggotanya, di antaranya adalah HIMA PBSI, KMSI, EDSA, HIMA PBD, HIMA SERUKER, HIMASETA, HIMASIK, HIPER, BDS, AL HUDA, LIMLARTS, SANGKALA, KREATIVA, DPM FBS, dan tentunya dari BEM FBS sendiri. Acara yang dimulai pukul 20.00 dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UNY, dilanjutkan sambutan Wakil Dekan III FBS, Dr. Kun Setyaning Astuti, M.Pd. yang turut hadir dalam acara tersebut. Sebelum pembukaan acara juga ditampilkan hiburan akustik dan pembacaan puisi dari anggota BEM.

Agenda tahunan ini bertujuan agar setiap HIMA dan Ormawa khususnya di FBS saling kenal dan mampu mempunyai satu tujuan baik untuk FBS kedepannya. “Kita butuh satu acara untuk kumpul bareng, mungkin dalam waktu dekat ini acara yang paling strategis adalah Pelantikan Ormawa karena masing-masing ormawa disibukkan dengan open house mereka sendiri.” ujar Tommy selaku Ketua BEM FBS 2013. Secara institusional, agenda ini menunjukkan hubungan formal antara ormawa dan dekanat. Tommy menambahkan, “Hampir setiap Ormawa butuh legalitas, untuk berjalan dan bergerak.”